Liputan6.com, Jakarta - Fitri Ariyani tidak pernah menyangkambahwa pengalaman kesulitan saat hendak melaksanakan salat di musala pinggir jalan justru menjadi awal lahirnya usaha Tatag By Sandal Wudhu yang kini dibesarkannya. Dari keresahan kecil itu, ia merasakan satu persoalan yang sering dianggap sepele, yakni minimnya ketersediaan sandal umum di banyak musala.
Berangkat dari pengalaman itu, Fitri kemudian melihat adanya peluang pembuka rezeki yang dibutuhkan orang-orang saat ingin melaksanakan ibadah ketika melakukan perjalanan. Dari sana, lahirlah sandal khusus untuk kebutuhan beribadah agar jemaah menjadi lebih nyaman saat bersuci dari hadas kecil.
Sebagai aksesoris, sandal buatannya telah banyak digunakan di musala, masjid, hingga lingkungan sekolah dan kampus. Produknya juga dipesan konsumen dari berbagai daerah di luar pulau Jawa. Fitri mengaku yakin dan tak ingin mundur dalam menjalankan bisnisnya itu, melalui filosofi Jawa Tatag, Teteg, Tutug.
Kisahnya kemudian menginspirasi, karena Fitri mampu bertahan dari masa-masa sulit ketika menggeluti usaha ini. Berikut kisah menarik dari UMKM Tatag By Sandal Wudhu selengkapnya, dihadirkan Liputan6.com pada Senin (25/5).
Berawal dari Pengalaman Sulit Wudu saat Singgah di Musala Pinggir Jalan
Dituturkan perempuan 46 tahun itu, ide membuat sandal wudu sebelumnya memang muncul dari pengalaman pribadinya saat masih sering bepergian dan singgah di musala kecil pinggir jalan untuk salat dan beristirahat.
Sayangnya di momen itu, dirinya menemui kendala yakni tidak adanya sandal ketika akan berwudhu. Padahal, seringkali jaraknya cukup jauh antara lokasi keran air dengan area serambi. Kalaupun ada sandal, kondisinya sudah tidak layak, karena licin, atau bahkan rusak.
Menurutnya, keadaan ini cukup merepotkan, terutama bagi orang yang sedang dalam perjalanan dan selalu mengenakan sepatu. Sejak itu, Fitri mulai terpikir untuk membawa bekal sandal baru dan meninggalkannya di lokasi sebagai langkah bersedekah.
“Dulu kan waktu 2015 sampai 2019 saya masih senang motoran ke mana-mana sama tema-teman. Lalu, disempatkanlah mampir untuk salat di musala atau masjid pinggir jalan. Nah seringnya itu tidak ada sandal dan sulit ketika hendak wudhu karena saya memakai sepatu,” kata Fitri, saat bercerita kepada Liputan6.com di rumah produksinya, Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Kamis (14/5).
Menjalankan Usaha dengan Niat Membantu dan Bersedekah
Berselang beberapa waktu, kebiasaan membawa sandal baru saat bepergian selalu tidak ia lewatkan. Bahkan, teman-temannya juga seringkali ikut membeli melalui dirinya. Fitri lantas melihat ini sebagai peluang usaha yang bisa ia kerjakan.
Menurutnya, produk yang sandal yang dibuat turut memiliki nilai manfaat karena bisa dipakai oleh banyak orang untuk kebutuhan beribadah di musala maupun masjid sekitar. Dari sana, ada kepuasan tersendiri ketika melihat sandal buatannya bisa membantu para jemaah menuju tempat wudhu.
Fitri lantas merasakan keyakinan bahwa usaha yang dijalankannya juga menjadi bagian dari sedekah karena membantu memberikan kenyamanan bagi orang lain saat beribadah. Dari sana, ia ingin fokus menjaga kualitas agar produknya bisa digunakan dan tahan dipakai dalam jangka waktu lama.
Produk sandal buatannya perlahan mulai dikenal dari rekomendasi mulut ke mulut. Beberapa pengurus musala dan masjid yang pernah memesan kemudian kembali membeli karena merasa kualitas sandal dirasa nyaman digunakan untuk area tempat wudhu.
Dari sana, pintu harapan di usahanya ini kemudian terbuka lebar di awal perintisan pada 2020, meski sempat tidak bertahan lama, akibat munculnya wabah pandemi Covid-19 yang membuat banyak masjid hingga sekolah ditutup.
Pandemi Covid-19 Membuat Fitri Hampir Terpuruk
Sebelum pandemi Covid-19 datang, usaha sandal wudhu milik Fitri sempat berkembang cukup baik. Pesanan bahkan datang dari sejumlah masjid, musala hingga sekolah-sekolah untuk kebutuhan mobilitas dari tempat wudhu ke serambi musala.
Namun situasi berubah drastis akibat merosotnya ekonomi, hingga menjadi titik paling berat dalam menjalankan usaha sandal ini. Selama beberapa waktu, hampir tidak ada pesanan yang masuk karena sebagian besar masjid memilih menunda pembelian kebutuhan fasilitas.
“Waktu pandemi itu benar-benar berat karena masjid banyak ditutup. Sekolah juga pada libur akibat lockdown dari pemerintah, nah, pesanan sandal itu hampir tidak ada sama sekali,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Fitri sempat merasa bingung memikirkan bagaimana usaha yang sudah dirintisnya bisa tetap berjalan. Meski begitu, ia memilih tidak berhenti dan terus mencoba mencari ide baru agar produknya tetap memiliki pasar.
Inovasi Sandal Motif Aksara Jawa Melahirkan Semangat Tatag, Teteg, Tutug saat Usaha Sedang Sulit
Di tengah kondisi usaha yang sedang terpuruk, Fitri mencoba mencari pembeda agar produknya tidak sama dan mampu menjaring pasar lainnya. Dari situ, muncul ide membuat sandal dengan motif aksara Jawa sebagai ciri khas produknya.
Ia mengaku ide tersebut lahir saat dirinya sedang pasrah dan mencoba menerima kondisi usaha yang sedang sulit. Ketika pesanan sandal musala berhenti, Fitri mulai bereksperimen membuat desain sandal yang memiliki sentuhan budaya lokal.
Aksara Jawa dipilih karena menurutnya memiliki filosofi sekaligus nilai budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat di Yogyakarta. Selain memberi tampilan berbeda, motif tersebut juga membuat sandal buatannya lebih mudah dikenal di pasaran.
Fitri kemudian mencoba berbagai model dan warna sebelum akhirnya menemukan desain yang paling diminati konsumen. Tidak disangka, sandal motif aksara Jawa justru mendapat respons cukup baik dan mulai menarik perhatian pembeli dari berbagai daerah. Usaha untuk bertahan dan berinovasi inilah yang selanjutnya menjadi inspirasi nama Tatag dari yang sebelumnya bernama Sandalwudhu.net.
“Jadi dari sana itu, saya seperti mendapat wangsit, lalu saya yakin, Bismillah untuk melanjutkan usaha ini hingga lahirlah filosofi Tatag yang artinya berani serta diyakini orang Jawa,” tambahnya.
Filosofi Tatag, Teteg, Tutug Menjadi Pegangan Menjalankan Usaha
Dalam menjalankan usaha, Fitri memegang filosofi Jawa, yakni Tatag, Teteg, Tutug. Filosofi itu menurutnya menjadi penguat saat usaha mengalami masa sulit, terutama saat penjualan turun drastis.
Merujuk istilah Bahasa Jawa, Tatag berarti berani menghadapi masalah dan tidak mudah takut dengan keadaan. Teteg memiliki makna tetap teguh dan konsisten menjalani proses meski usaha sedang tidak baik-baik saja. Sementara Tutug berarti menyelesaikan apa yang sudah dimulai sampai tuntas.
Filosofi ini yang kemudian membuatnya tidak tumbang saat menghadapi berbagai tantangan usaha. Ia percaya setiap proses harus dijalani dengan kesabaran dan keyakinan, agar usaha bisa terus berkembang.
“Kalau usaha pasti ada naik turunnya. Saya pegangnya Tatag, Teteg, Tutug supaya tetap kuat menjalani proses,” kata Fitri.
Proses Pembuatan Dilakukan dengan Detail dan Presisi
Dalam proses produksi, sandal dibuat melalui beberapa tahapan, mulai dari pemotongan bahan dasar, penyesuaian model sandal, pemasangan tali, hingga proses cetak motif aksara Jawa pada bagian permukaan sandal.
Fitri mengatakan sebagian besar proses masih dilakukan secara manual agar kualitas produk tetap terjaga. Untuk motif aksara Jawa, ia juga harus memastikan hasil cetak tetap rapi dan tidak mudah pudar saat digunakan.
Pembuatannya diawali dengan memilih karet sesuai kebutuhan. Lalu, lembaran karet dan spons dicutting dengan ukuran kaki 31-44 untuk pria dan S, M sampai L untuk wanita. Setelahnya, akan diberi font dengan cara dipuzzle hingga terakhir diperkuat lagi dengan perekat khusus.
“Nah untuk prosesnya sebenarnya bertahap, jadi misal hari ini puzzle, lalu hari lain ada pengeleman, jadi ga bisa sehari. Kalau dirata-rata ya dua sampai tiga hari, misal untuk seratus pasang. Terus ada proses pemasangan srempatnya atau tali sandalnya,” tutur Fitri.
Pameran Pesta Rakyat BRI Bikin Sandal Fitri Dikenal Luas
Seiring bisnisnya berkembang, Fitri menyebut bahwa usahanya itu turut terbantu melalui program pelatihan bernama BRIncubator yang diadakan Rumah BUMN Yogyakarta. Dari sana, produk Tatag By Sandal Wudhu berkesempatan naik kelas dari lokal menuju nasional.
“Dari pelatihan BRIncubator ini saya jadi tahu bahwa tidak semua media sosial bisa dipakai untuk promosi. Ada target market yang lebih pas, artinya saya jadi paham bahwa ada peta konsumen yang tidak harus luas, namun sesuai dengan target marketnya. Ini bikin potensi keuntungan jadi lebih konsisten,” katanya.
Kemudian, dukungan layanan dari BRI seperti QRIS juga memudahkan kebutuhan transaksi dan pengelolaan usaha. Konsumen pun tidak harus membayar dengan uang konvensional seperti saat kegiatan pameran Pesta Rakyat BRI beberapa waktu lalu.
“Pameran BRI ini membantu sekali pengenalan produk saya. Sandal wudhu ini kemudian dibeli dan dikenal pengunjung. Kalaupun tidak selalu membeli, setidaknya mereka tahu bahwa di Yogyakarta ada produk sandal wudhu ini,” lanjutnya.
Selain dijual melalui media sosial, Fitri juga menjajakan produknya di rumah produksinya di Baciro dan di wilayah Bakung, Imogiri, Kabupaten Bantul. Sandalnya belakangan juga menjadi alternatif oleh-oleh yang dijual di toko-toko souvenir sekitar.
Ke depan, Fitri turut berharap agar usahanya bisa terus berkembang, sekaligus tetap membawa nilai manfaat dan budaya melalui produk sandal yang dibuatnya.
Konsumen Merasa Puas dengan Sandal Wudhu Buatan Fitri
Sementara itu, salah satu konsumen merasa puas akan produk sandal wudhu yang dibuat oleh Fitri. Bambang Sugiharto (46), yang merupakan pegawai di lingkungan akademik, Fakulkas Hukum, Universitas Islam Indonesia (UII), mulai menjadi pelanggan yang bolak balik memesan produk Tatag By Sandal Wudhu.
Saat ditemui di UII, Selasa (19/5), Bambang mengaku memilih sandal tersebut karena desainnya berbeda dan nyaman digunakan di area tempat wudhu. Menurutnya, sandal buatan Fitri juga digunakan di seluruh musala gedung program studi tersebut.
“Yang unik itu ada di motifnya, kan pakai tulisan Sandal Wudhu, terus warna-warni juga. Jadi sepertinya kok pas kalau ditaruh di musala sini,” ujar Bambang.
Awalnya, Bambang mengetahui produk sandal ini dari website di internet. Lalu, pihaknya langsung mendatangi rumah produksi Tatag By Sandal Wudhu untuk memesan. Mulanya, ia membeli satu lusin terlebih dahulu untuk kebutuhan musala.
Setelah itu, pemesanan dilakukan kembali untuk mengisi stok sandal. Kualitasnya yang dianggap unggul menjadi keyakinan Bambang untuk menggunakan produk sandal milik Fitri itu. Apalagi, desainnya tebal dan empuk tidak seperti sandal-sandal lainnya yang mudah lincin.
Sebagai konsumen dirinya mengaku puas dengan produk dari Tatag By Sandal Wudhu karena mampu menjawab kebutuhan sandal di musala lingkungan kampus.
“Saya merasa puas sih, karena bentuknya bagus, paling penting itu tidak licin. Terus terasa empuk juga saat dipakai. Malah ada yang ingin membawa pulang karena bagus tadi,” tambah Bambang.
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·