Tips Sehat Mengolah Daging Kurban, Cara Simpan hingga Thawing Tanpa Merusak Kualitas

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Jakarta -

Hari Raya Idul Adha selalu jadi momen spesial untuk menikmati menu masakan daging bersama keluarga. Supaya cita rasanya maksimal dan tetap aman dikonsumsi, cara mengolah daging juga perlu diperhatikan.

Daging kurban yang diolah dengan tepat bukan cuma menghasilkan tekstur yang empuk dan bumbu yang meresap, tetapi juga membantu menjaga kualitas gizinya tetap baik. Jadi, bagaimana tips mengolah daging kurban yang aman tapi gizinya tetap terjaga?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Perhatikan Kebersihan Diri Sebelum Mengolah

Sebelum mulai memasak, kebersihan diri juga perlu diperhatikan. Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah memegang daging mentah.

Selain tangan, celemek, lap dapur, hingga permukaan meja masak juga sebaiknya dalam kondisi bersih. Kebiasaan sederhana ini membantu menjaga kualitas makanan tetap higienis selama proses memasak berlangsung.

2. Daging Beku Jangan Langsung Dimasak

Masih banyak orang terburu-buru memasukkan daging beku langsung ke wajan atau panci karena ingin cepat selesai. Padahal cara ini membuat bagian luar daging lebih dulu panas, sementara bagian dalamnya masih dingin atau belum matang merata.

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya Direktorat PMPUPO BPOM, Retno Anggrina Khalistha Dewi, S.Si, Apt, M.Biomed, dalam webinar Webinar Paman Kece Seri 6: Mengolah Daging Kurban yang Aman yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan pada Kamis, 21 Mei 2026 menjelaskan bahwa daging beku sebaiknya di-thawing atau dicairkan terlebih dahulu sebelum diolah. Proses pencairan membantu panas masuk lebih merata saat memasak sehingga tekstur dan kualitas masakan juga lebih baik.

Menurut Retno, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk men-thawing daging di rumah.

Cara pertama adalah memindahkan daging dari freezer ke chiller semalaman sebelum dimasak keesokan harinya. Cara ini membuat proses pencairan berlangsung perlahan sehingga lebih praktis untuk persiapan memasak pada saat Idul Adha.

Cara kedua bisa dilakukan dengan meletakkan daging yang masih berada dalam kemasan di bawah air mengalir. Menurut Retno, cara ini cukup aman karena daging tetap berada dalam kemasan sehingga tidak langsung terkena air.

Sementara untuk kondisi yang lebih terburu-buru, daging juga bisa dicairkan menggunakan microwave. Namun Retno mengingatkan agar menggunakan tatakan supaya cairan dari daging tidak menyebar dan mengkontaminasi bagian lain. Setelah selesai digunakan, microwave juga perlu dibersihkan kembali. Biasanya proses ini memakan waktu sekitar 30 menit tergantung jumlah dan ukuran daging.

"Bisa juga kalau memang buru-buru banget, nah ini bisa juga di microwave ya, tapi pastikan ada tatakannya. Jadi kalau dia meleleh tuh pas tidak akan kemana-mana," jelas Retno dalam webinar Paman Kece Seri 6, Kamis (21/5/2026).

3. Pisahkan Peralatan untuk Bahan Mentah dan Matang

Saat mengolah daging kurban, talenan dan pisau sebaiknya dipisahkan antara untuk daging mentah dan sayur atau buah. Kebiasaan ini membantu mencegah perpindahan bakteri dari daging mentah ke bahan makanan lain.

Bukan cuma alat potong,peralatan masak sebaiknya dipastikan tetap bersih dan digunakan terpisah antara bahan mentah dengan makanan matang. Termasuk saat menaruh hasil masakan agar tidak bercampur dengan sayuran atau bahan lain yang belum dicuci.

Kontaminasi silang di dapur rumah tangga masih menjadi salah satu penyebab utama perpindahan bakteri pada makanan. Penelitian dalam jurnal Food Control tahun 2022 menemukan bakteri dapat berpindah dari daging mentah ke makanan siap santap melalui talenan dan permukaan dapur yang tidak dibersihkan dengan baik.

Panduan keamanan pangan dari USDA Food Safety and Inspection Service juga menyarankan penggunaan talenan terpisah untuk daging mentah dan bahan segar seperti buah atau sayuran guna membantu mencegah kontaminasi silang.

4. Pastikan Tidak Ada Bagian yang Masih Mentah

Saat memasak daging kurban, tingkat kematangan perlu benar benar diperhatikan agar panas bisa masuk merata hingga ke bagian dalam daging.

Potongan daging sebaiknya dibuat seragam supaya proses memasak lebih merata. Pastikan tidak ada bagian yang masih mentah sebelum dikonsumsi.

Daging idealnya dimasak hingga matang sempurna dengan suhu internal minimal 71 derajat Celcius. Sementara untuk masakan berkuah seperti gulai atau tongseng, proses perebusan sebaiknya mencapai suhu minimal 70 derajat Celcius hingga benar benar mendidih.

Jika masih ragu memastikan kematangan daging dengan cara dilihat, tingkat kematangan bisa dicek menggunakan termometer makanan agar hasilnya lebih akurat.

5. Perhatikan Takaran Bumbu

Masakan daging kurban memang identik dengan rasa gurih dan kaya bumbu. Jika menggunakan bumbu instan, kandungan gula, garam, dan lemak di dalamnya biasanya lebih mudah diketahui melalui label informasi nilai gizi pada kemasan. Dengan begitu, penggunaan tambahan gula, garam, atau minyak saat memasak bisa lebih disesuaikan agar tidak berlebihan.

Kementerian Kesehatan RI menganjurkan batas konsumsi harian GGL yaitu gula maksimal 50 gram atau sekitar 4 sendok makan, garam maksimal 5 gram atau sekitar 1 sendok teh, serta lemak maksimal 67 gram per hari.

Masakan seperti gulai, rendang, semur, atau tongseng sering kali mengandung santan, minyak, kecap, hingga penyedap dalam jumlah cukup banyak. Jika dikonsumsi berulang dalam beberapa hari saat Idul Adha, asupan gula, garam, dan lemak bisa meningkat tanpa disadari.

6. Jangan Masak dengan Api yang Besar

Penggunaan suhu api saat memasak ternyata juga memengaruhi hasil akhir olahan daging. Penggunaan api yang lebih stabil membantu proses pemasakan berlangsung lebih merata hingga ke bagian dalam daging.

Ketua Kelompok Substansi Pengawasan Keamanan Produk Hewan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementan, drh Ira Firgorita dalam Webinar Paman Kece Seri 6 menjelaskan bahwa memasak daging dengan api terlalu besar bisa memengaruhi teksturnya ketika matang.

Menurutnya, kalau daging langsung dimasak dengan api besar, otot pada daging akan langsung mengerut. Karena itu, proses memasak dengan api yang tidak terlalu besar dinilai lebih baik agar daging matang lebih merata dan teksturnya tetap empuk.

"Kalau kita masak langsung dengan api besar, itu menyebabkan otot daging langsung mengkerut. Jadi lebih baik slow cooker ya, artinya memasaknya dengan api yang tidak terlalu besar," kata drh Ira, Kamis (21/5/2026)

Memasak dengan api sedang juga membantu bumbu lebih mudah meresap, terutama untuk olahan berkuah atau potongan daging berukuran besar yang membutuhkan waktu memasak lebih lama.

7. Simpan Pada Suhu Aman

Makanan matang sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama di suhu ruang. Idealnya, makanan tidak didiamkan lebih dari dua jam karena suhu ruang dapat membuat bakteri berkembang lebih cepat.

Setelah makanan mulai dingin, segera simpan dalam wadah tertutup dan masukkan ke kulkas. Penyimpanan yang cepat membantu menjaga kualitas rasa sekaligus membuat makanan lebih aman saat dikonsumsi kembali.

Penyimpanan makanan matang pada suhu yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri penyebab keracunan makanan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bakteri dapat berkembang cepat pada suhu antara 4 hingga 60 derajat Celcius atau yang dikenal sebagai danger zone.

(mal/up)