Trump dan Netanyahu Berselisih di Telepon soal Iran, AS Pilih Jalur Diplomasi

Sedang Trending 44 menit yang lalu

PROKALTENG.CO-Hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas setelah keduanya terlibat percakapan telepon bernada tegang terkait arah kebijakan menghadapi Iran.

Ketegangan muncul setelah Trump memilih menunda rencana serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran dan membuka peluang diplomasi baru, sementara Netanyahu tetap menginginkan tekanan militer dilanjutkan. Perbedaan sikap itu disebut memperlihatkan adanya jarak pandangan antara Washington dan Tel Aviv dalam menyikapi konflik Timur Tengah yang terus memanas.

Trump Tunda Serangan ke Iran demi Buka Jalur Negosiasi

Media internasional CNN melaporkan percakapan antara Trump dan Netanyahu berlangsung selama hampir satu jam pada Selasa, 19 Mei 2026 waktu setempat. Dalam pembicaraan tersebut, Netanyahu dikabarkan mendesak agar operasi militer terhadap Iran tetap berjalan sesuai rencana awal.

Sebelumnya, pemerintahan Amerika Serikat disebut telah menyiapkan operasi militer bernama “Operation Sledgehammer” yang direncanakan berlangsung pada awal pekan ini. Namun, rencana itu mendadak ditunda setelah Trump memutuskan memberi ruang bagi upaya diplomasi.

Keputusan tersebut diambil setelah sejumlah negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab meminta Washington mempertimbangkan jalur damai. Negara-negara tersebut bersama Pakistan disebut aktif melakukan komunikasi dengan Gedung Putih untuk mendorong pembicaraan baru antara Amerika Serikat dan Iran.

Trump menegaskan bahwa diplomasi masih menjadi pilihan utama pemerintahannya sebelum mengambil langkah militer lebih jauh.

“Kami berada di tahap akhir soal Iran. Kita lihat saja apa yang akan terjadi,” kata Donald Trump kepada wartawan.

Electronic money exchangers listing

Meski begitu, Trump tetap memberi sinyal bahwa opsi serangan militer masih terbuka jika negosiasi gagal mencapai hasil sesuai harapan Washington.

“Kami akan mendapatkan kesepakatan atau kami akan melakukan sesuatu yang sedikit buruk,” ujar Trump.

Netanyahu Kecewa, Israel Ingin Tekanan Militer Dilanjutkan

Sikap Trump yang memilih menunda serangan disebut memicu kekecewaan di pihak Israel. Pemerintah Israel menilai penundaan operasi militer justru memberi kesempatan bagi Iran untuk memperkuat posisi dan strategi mereka di kawasan.

Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut Netanyahu secara langsung menyampaikan keberatan atas keputusan tersebut dalam percakapan telepon dengan Trump. Perbedaan pandangan keduanya juga dinilai menunjukkan tujuan berbeda antara Amerika Serikat dan Israel dalam menghadapi Iran.

Israel disebut menginginkan tekanan militer maksimal agar Iran segera melemah, sedangkan Trump masih ingin melihat kemungkinan tercapainya kesepakatan diplomatik dalam beberapa hari ke depan.

“Perbedaannya sangat jelas, Trump ingin melihat apakah kesepakatan bisa dicapai, sementara Netanyahu mengharapkan sesuatu yang berbeda,” ujar seorang pejabat Israel.

Ketegangan hubungan keduanya semakin terlihat ketika Trump menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangannya sebagai Presiden Amerika Serikat.

“Dia akan melakukan apa pun yang saya ingin dia lakukan,” kata Trump saat ditanya wartawan mengenai pembicaraannya dengan Netanyahu.

Pernyataan tersebut dianggap menunjukkan posisi dominan Washington dalam menentukan arah kebijakan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, meskipun Israel merupakan sekutu dekat mereka.

Iran dan AS Masih Bertukar Pesan Lewat Mediator

Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa komunikasi dengan Amerika Serikat masih terus berlangsung melalui mediator Pakistan. Jalur komunikasi itu difokuskan pada pembahasan proposal perdamaian dan kemungkinan kesepakatan baru.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan kedua pihak masih saling bertukar pandangan mengenai proposal yang diajukan.

“Pesan telah dipertukarkan beberapa kali, dan kami telah menerima pandangan pihak Amerika dan saat ini sedang meninjaunya,” kata Baqaei dikutip media pemerintah Iran.

Walaupun proses diplomasi masih berjalan, Trump kembali menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat siap mengambil langkah cepat apabila Iran tidak memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginan Washington.

“Jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berjalan sangat cepat. Kami semua siap bergerak,” tutup Trump. (jpg)

PROKALTENG.CO-Hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas setelah keduanya terlibat percakapan telepon bernada tegang terkait arah kebijakan menghadapi Iran.

Ketegangan muncul setelah Trump memilih menunda rencana serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran dan membuka peluang diplomasi baru, sementara Netanyahu tetap menginginkan tekanan militer dilanjutkan. Perbedaan sikap itu disebut memperlihatkan adanya jarak pandangan antara Washington dan Tel Aviv dalam menyikapi konflik Timur Tengah yang terus memanas.

Trump Tunda Serangan ke Iran demi Buka Jalur Negosiasi

Media internasional CNN melaporkan percakapan antara Trump dan Netanyahu berlangsung selama hampir satu jam pada Selasa, 19 Mei 2026 waktu setempat. Dalam pembicaraan tersebut, Netanyahu dikabarkan mendesak agar operasi militer terhadap Iran tetap berjalan sesuai rencana awal.

Electronic money exchangers listing

Sebelumnya, pemerintahan Amerika Serikat disebut telah menyiapkan operasi militer bernama “Operation Sledgehammer” yang direncanakan berlangsung pada awal pekan ini. Namun, rencana itu mendadak ditunda setelah Trump memutuskan memberi ruang bagi upaya diplomasi.

Keputusan tersebut diambil setelah sejumlah negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab meminta Washington mempertimbangkan jalur damai. Negara-negara tersebut bersama Pakistan disebut aktif melakukan komunikasi dengan Gedung Putih untuk mendorong pembicaraan baru antara Amerika Serikat dan Iran.

Trump menegaskan bahwa diplomasi masih menjadi pilihan utama pemerintahannya sebelum mengambil langkah militer lebih jauh.

“Kami berada di tahap akhir soal Iran. Kita lihat saja apa yang akan terjadi,” kata Donald Trump kepada wartawan.

Meski begitu, Trump tetap memberi sinyal bahwa opsi serangan militer masih terbuka jika negosiasi gagal mencapai hasil sesuai harapan Washington.

“Kami akan mendapatkan kesepakatan atau kami akan melakukan sesuatu yang sedikit buruk,” ujar Trump.

Netanyahu Kecewa, Israel Ingin Tekanan Militer Dilanjutkan

Sikap Trump yang memilih menunda serangan disebut memicu kekecewaan di pihak Israel. Pemerintah Israel menilai penundaan operasi militer justru memberi kesempatan bagi Iran untuk memperkuat posisi dan strategi mereka di kawasan.

Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut Netanyahu secara langsung menyampaikan keberatan atas keputusan tersebut dalam percakapan telepon dengan Trump. Perbedaan pandangan keduanya juga dinilai menunjukkan tujuan berbeda antara Amerika Serikat dan Israel dalam menghadapi Iran.

Israel disebut menginginkan tekanan militer maksimal agar Iran segera melemah, sedangkan Trump masih ingin melihat kemungkinan tercapainya kesepakatan diplomatik dalam beberapa hari ke depan.

“Perbedaannya sangat jelas, Trump ingin melihat apakah kesepakatan bisa dicapai, sementara Netanyahu mengharapkan sesuatu yang berbeda,” ujar seorang pejabat Israel.

Ketegangan hubungan keduanya semakin terlihat ketika Trump menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangannya sebagai Presiden Amerika Serikat.

“Dia akan melakukan apa pun yang saya ingin dia lakukan,” kata Trump saat ditanya wartawan mengenai pembicaraannya dengan Netanyahu.

Pernyataan tersebut dianggap menunjukkan posisi dominan Washington dalam menentukan arah kebijakan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, meskipun Israel merupakan sekutu dekat mereka.

Iran dan AS Masih Bertukar Pesan Lewat Mediator

Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa komunikasi dengan Amerika Serikat masih terus berlangsung melalui mediator Pakistan. Jalur komunikasi itu difokuskan pada pembahasan proposal perdamaian dan kemungkinan kesepakatan baru.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan kedua pihak masih saling bertukar pandangan mengenai proposal yang diajukan.

“Pesan telah dipertukarkan beberapa kali, dan kami telah menerima pandangan pihak Amerika dan saat ini sedang meninjaunya,” kata Baqaei dikutip media pemerintah Iran.

Walaupun proses diplomasi masih berjalan, Trump kembali menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat siap mengambil langkah cepat apabila Iran tidak memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginan Washington.

“Jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berjalan sangat cepat. Kami semua siap bergerak,” tutup Trump. (jpg)