Trump Segera Respons Proposal Iran Guna Akhiri Konflik Timur Tengah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadwalkan pemberian respons resmi terhadap proposal damai dari Iran guna mengakhiri peperangan di Timur Tengah yang telah berlangsung selama tiga bulan. Dilansir dari Bloombergtechnoz, ketegangan ini telah mengakibatkan ribuan korban jiwa serta melumpuhkan jalur pasokan energi dunia.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi pada Senin (27/4) bahwa Trump telah melakukan pertemuan dengan tim keamanan nasional untuk membedah tawaran tersebut. Pemerintah Amerika Serikat saat ini sedang mematangkan posisi mereka sebelum memberikan pengumuman kepada publik.

"Garis merahnya terhadap Iran sudah dibuat sangat, sangat jelas," tegas Leavitt, Juru Bicara Gedung Putih.

Pernyataan tersebut merujuk pada komitmen Washington untuk memastikan Teheran tidak mengembangkan senjata nuklir. Meski demikian, pihak Iran secara konsisten membantah adanya upaya pembangunan fasilitas senjata pemusnah massal tersebut dalam setiap kesempatan diplomasi.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan penilaian awal terhadap isi dokumen yang dikirimkan oleh pihak Iran. Rubio mengisyaratkan adanya kemajuan dalam komunikasi meskipun masih terdapat keraguan mengenai stabilitas internal kepemimpinan di Teheran.

"lebih baik dari yang kami perkirakan akan mereka ajukan," ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.

Pihak Gedung Putih masih meneliti lebih lanjut mengenai keabsahan otoritas pengirim proposal tersebut di tengah laporan adanya perbedaan strategi di antara para pemimpin Iran. Rubio menekankan pentingnya kepastian mengenai siapa yang memiliki wewenang dalam negosiasi tersebut.

"pertanyaan apakah pihak yang mengajukan proposal tersebut memiliki kewenangan," ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.

Hambatan utama saat ini terletak pada syarat pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia. Iran bersedia membuka blokade jika AS menghentikan sanksi terhadap pelabuhan mereka, namun tetap menuntut kendali parsial atas navigasi di wilayah perairan strategis tersebut.

Krisis ini telah memicu lonjakan harga minyak Brent hingga melampaui US$110 per barel pada Selasa, yang merupakan level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Kondisi ini memancing kritik tajam dari para pemimpin dunia yang merasa dirugikan oleh kebuntuan diplomatik yang sedang terjadi.

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik posisi Amerika Serikat yang dianggap belum menemukan solusi efektif menghadapi taktik diplomasi Iran. Merz menilai situasi ini telah mengganggu stabilitas ekonomi global secara signifikan.

AS sedang "dipermalukan" oleh para pemimpin Iran dan ia tidak melihat "jalan keluar strategis apa yang kini dipilih oleh Amerika," kata Friedrich Merz, Kanselir Jerman.

Di tengah kebuntuan tersebut, data pelacakan kapal mencatat adanya kapal Mubaraz yang membawa gas alam cair (LNG) dari Uni Emirat Arab berhasil melintasi Selat Hormuz. Kapal tersebut saat ini dilaporkan berada di perairan selatan India, menandai pengiriman pertama sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.