UNESCO Rayakan Pemikiran Kartini Melalui Acara Kartini Letters di Paris

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kantor Wakil Tetap Republik Indonesia (KWRI) untuk UNESCO bersama Delegasi Tetap Kerajaan Belanda menyelenggarakan acara "Kartini Letters: A Spark in the Memory of the World" di Paris, Prancis, pada Selasa, 21 April 2026. Kegiatan ini bertujuan mengapresiasi kontribusi Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak pendidikan dan kesetaraan gender di tingkat internasional.

Acara yang berlangsung di Kantor Pusat UNESCO tersebut dihadiri oleh sekitar 100 delegasi dari berbagai negara anggota. Surat-surat Kartini yang telah diinskripsikan dalam Memory of the World Register UNESCO sejak tahun 2025 menjadi pusat pembahasan dalam memperingati warisan intelektual sang pelopor emansipasi tersebut.

Duta Besar RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, memberikan penekanan bahwa visi Kartini mengenai kemandirian perempuan melalui jalur edukasi tetap relevan bagi masyarakat global saat ini. Oemar menilai pemikiran Kartini melampaui batas zamannya dalam menyuarakan keadilan sosial.

"Kartini percaya bahwa pendidikan adalah fondasi emansipasi," ujar Oemar, berdasarkan siaran pers KBRI Paris yang diterima Metrotvnews.com.

Dalam sambutannya, Oemar menjelaskan bahwa upaya pemberdayaan kaum perempuan merupakan elemen krusial bagi terciptanya pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Ia juga menambahkan bahwa inspirasi dari pemikiran Kartini kini telah menjadi milik masyarakat internasional.

"Melalui pemikirannya, ia menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya tentang keadilan sosial, tetapi juga kunci pembangunan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan," sambung Oemar.

Duta Besar Kerajaan Belanda untuk UNESCO, Monique Van Daalen, menyoroti bagaimana surat-surat tersebut merefleksikan pandangan maju terhadap posisi perempuan di tengah masyarakat. Kerja sama antara Indonesia dan Belanda dalam acara ini sekaligus memperkuat hubungan diplomatik kedua negara yang telah terjalin lama.

Rangkaian acara diisi dengan diskusi buku 'The Most Beautiful Letters from Kartini' bersama editor Lara Nuberg dan penulis Feba Sukmana. Diskusi tersebut memberikan analisis mendalam terhadap isi surat asli yang memuat kritik terhadap sistem kolonialisme dan pembatasan hak-hak perempuan.

Salah satu peserta dari Delegasi Belanda, Chyna Bong A Jan, memberikan pandangannya mengenai peran strategis Kartini sebagai penggerak awal feminisme. Menurutnya, menghargai warisan Kartini sangat penting di tengah dinamika perjuangan hak asasi manusia masa kini.

Pertunjukan budaya berupa tari Bali Legong Kreasi Mahawidya dan musik gamelan oleh seniman Prancis turut memeriahkan suasana di Paris. Penampilan seni ini dimaksudkan untuk menunjukkan kaitan erat antara identitas budaya dan pendidikan dalam memperkuat dialog antarbangsa.