Komisi Eropa resmi menghentikan pendanaan untuk teknologi inverter surya asal China pada Minggu, 10 Mei 2026, guna melindungi keamanan infrastruktur energi Benua Biru. Keputusan tersebut diambil karena kekhawatiran terhadap kerentanan jaringan listrik yang dapat dieksploitasi oleh aktor asing untuk menyebabkan pemadaman listrik massal.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari kebijakan yang ditetapkan pada 4 Mei yang menargetkan perangkat inverter sebagai otak sistem panel surya. Saat ini, sebanyak 61 persen inverter yang diimpor ke Eropa berasal dari China, dengan dominasi pasar oleh produsen besar seperti Huawei dan Sungrow.
Sekretaris Jenderal European Solar Manufacturing Council, Christoph Podewils, menjelaskan risiko teknis yang melekat pada perangkat tersebut kepada DW. Inverter yang terhubung ke internet memungkinkan adanya akses kendali jarak jauh yang bisa disalahgunakan.
"Semua perusahaan pembuat inverter memiliki semacam tombol emergency stop (pemutus darurat)," kata Christoph Podewils, sekretaris jenderal European Solar Manufacturing Council.
Podewils menambahkan bahwa pengendalian pada kapasitas 10 gigawatt saja sudah cukup untuk mengacaukan jaringan listrik Eropa secara signifikan. Sebagai perbandingan, produsen asal Negeri Tirai Bambu itu telah memasok perangkat untuk kapasitas lebih dari 220 gigawatt di Eropa.
Ahli keamanan siber Swantje Westphal memperingatkan dampak sistemik jika koneksi jarak jauh tersebut dimanfaatkan oleh peretas atau negara yang bermusuhan. Menurutnya, potensi gangguan ini merupakan ancaman yang nyata bagi stabilitas energi.
"Skenario terburuknya adalah pemadaman listrik berskala besar di seluruh Eropa," kata ahli keamanan siber Swantje Westphal.
Westphal menilai kebijakan ini sebagai langkah proteksi yang tepat meski inverter buatan China yang sudah ada belum dilarang sepenuhnya dari pasar. Ancaman ini menjadi sorotan serius setelah adanya temuan perangkat komunikasi mencurigakan pada inverter China di Amerika Serikat pada 2025.
"Ancaman ini nyata," kata Westphal.
Westphal juga menekankan bahwa peringatan ini didasarkan pada data teknis yang konkret. Menurutnya, langkah pembatasan pendanaan merupakan tindakan preventif yang krusial bagi kedaulatan digital Eropa.
"Ini adalah langkah ke arah yang benar," kata Westphal.
Selain masalah energi, Komisi Eropa juga memperketat pengawasan terhadap infrastruktur telekomunikasi 5G. Dilansir dari samsungmagazine.eu, otoritas Eropa secara khusus merekomendasikan penghapusan perangkat dari Huawei dan ZTE dalam jaringan komunikasi lokal negara anggota.
Kebijakan ini merupakan bagian dari revisi Undang-Undang Keamanan Siber (CSA 2.0) yang bertujuan mengamankan rantai pasokan dari intervensi asing. Meskipun inverter Eropa diperkirakan 2 persen lebih mahal, Christoph Podewils menilai selisih harga tersebut adalah investasi untuk keamanan jangka panjang.
"Ini seperti biaya asuransi," kata Christoph Podewils.
Saat ini, sekitar 80 persen sistem pembangkit listrik tenaga surya baru di Eropa masih bergantung pada produk China. Produsen lokal Eropa mengklaim mampu meningkatkan kapasitas produksi dalam hitungan bulan untuk mengisi kekosongan pasokan akibat pembatasan ini.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·