FAKULTAS Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menuntaskan pengambilan data World Values Survey (WVS) Gelombang ke-8 di Indonesia. Di balik capaian akademik internasional itu, survei tersebut juga memotret fenomena mengkhawatirkan dalam demokrasi Indonesia, yakni tingginya apatisme politik masyarakat.
Ketua tim peneliti Ayu Okvitawanli mengatakan UNS sebagai institusi akademik pertama dan satu-satunya di Indonesia yang dipercaya menjadi principal investigator resmi oleh WVS Association yang berkedudukan di Wina, Austria, untuk periode 2022–2026. “Ini merupakan pengakuan internasional terhadap kapasitas riset Fakultas Psikologi UNS," kata dia kepada wartawan di Gedung Rektorat UNS Surakarta, Jawa Tengah, Senin, 18 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Diterangkannya, survei dilakukan dengan standar metodologi yang sangat ketat. "Karena data ini akan dibandingkan dengan data dari lebih dari 90 negara dan menjadi rujukan ilmiah internasional untuk tahun-tahun mendatang,” ujar Ayu sambil menambahkan, Fakultas Psikologi UNS juga menyediakan data dan infografis hasil survei secara terbuka melalui situs resmi WVS Indonesia UNS https://wvsindonesia.uns.ac.id/.
Menurut Ayu, World Values Survey merupakan proyek riset ilmu sosial terbesar dan paling berpengaruh di dunia yang pertama kali diinisiasi Profesor Ronald Inglehart pada 1981. Hingga kini, survei tersebut telah berjalan dalam delapan gelombang dan mencakup lebih dari 90 negara dengan total lebih dari 400 ribu responden pada setiap gelombang.
"WVS mengukur berbagai perubahan nilai fundamental masyarakat, mulai dari kepercayaan antarpersonal, pandangan terhadap demokrasi dan pemerintahan, nilai agama dan keluarga, hingga sikap terhadap lingkungan dan teknologi," tuturnya.
Indonesia telah berpartisipasi dalam WVS sejak Gelombang ke-4 pada 2001, menjadikannya salah satu negara Asia Tenggara dengan rekam data nilai sosial paling panjang dalam survei internasional. Dengan data yang terkumpul, Indonesia kini memiliki rekam jejak perubahan nilai sosial masyarakat selama 24 tahun, meliputi periode pascareformasi 1998, era digitalisasi, krisis ekonomi 2008, pandemi COVID-19, hingga berbagai perubahan sosial-politik lain.
Di Indonesia, pengambilan data WVS Gelombang ke-8 dilakukan selama lima bulan, yakni Agustus hingga Desember 2025. Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur yang memuat lebih dari 300 pertanyaan dalam 14 tema utama.
Survei Ungkap Sebab Tingginya Politik Uang Setiap Pemilu
Survei menjangkau 2.306 responden di 247 kecamatan yang tersebar pada 18 provinsi dengan metode multistage random sampling guna memastikan keterwakilan populasi nasional sesuai standar internasional WVS Association. Salah satu temuan penting dalam survei tersebut adalah rendahnya minat masyarakat di Indonesia terhadap politik.
Dosen Fakultas Psikologi UNS sekaligus anggota tim peneliti M Abdul Halim mengungkapkan sebanyak 68,33 persen responden mengaku tidak tertarik (apatis) atau hanya sedikit tertarik pada politik. “Situasi politik yang semakin kompleks, semakin riuh, sementara di sisi lain kebutuhan hidup sehari-hari semakin banyak sehingga orang-orang mengalami kelelahan kognitif,” kata Halim.
Menurut dia, terlalu banyak informasi, kontroversi politik, dan perdebatan yang masuk ke masyarakat membuat banyak orang mengalami kelelahan mental sehingga tidak lagi tertarik mengikuti perkembangan politik maupun partai politik. "Hanya sedikit yang tertarik, tetapi kelompok kecil ini justru cenderung loyal,” ujarnya.
Halim menyebut kondisi tersebut menyerupai niche market dalam dunia pemasaran. Menurut dia, masyarakat yang tertarik pada politik jumlahnya sedikit, namun memiliki loyalitas tinggi terhadap pilihan partai masing-masing. “Dalam situasi ini biasanya perdebatan antara orang yang berbeda pilihan politik tidak berjalan dialogis karena masing-masing sangat berpegang pada keyakinan politiknya sendiri.”
Halim menilai kondisi itu kurang mendukung perkembangan demokrasi deliberatif yang mengedepankan dialog, musyawarah, dan mufakat. Ia pun mengingatkan rendahnya ketertarikan masyarakat terhadap politik tersebut berpotensi meningkatkan praktik politik uang menjelang Pemilu 2029.
“Mayoritas penduduk Indonesia saat ini cenderung menjadi swing voters yang pilihan politiknya mudah berubah sesuai situasi menjelang pemilu. Dalam kajian perilaku politik, kondisi seperti ini berkorelasi dengan tingginya potensi money politics,” tuturnya.
Menurut Halim, masyarakat yang tidak memiliki keterikatan ideologis atau perhatian mendalam terhadap isu kebijakan lebih mudah dipengaruhi oleh insentif jangka pendek, termasuk uang. Berbeda jika masyarakat benar-benar tertarik pada isu politik dan memahami bahwa setiap pilihan akan berpengaruh terhadap kehidupan mereka, keluarga, dan masyarakat.
Selain apatisme politik, Ayu menambahkan survei WVS juga menemukan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah masih rendah di sejumlah wilayah, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Ia mencontohkan, di Sumatera Selatan hanya satu dari 101 responden yang menyatakan sangat percaya kepada pemerintah.
Sebaliknya, masyarakat di wilayah timur Indonesia menunjukkan tingkat kepercayaan yang relatif lebih tinggi terhadap pemerintah. “Terlihat ada perbedaan antardaerah, antargenerasi, termasuk terkait toleransi terhadap korupsi,” ujar Ayu.
Pemanfaatan Hasil Survei
Ayu mengatakan data WVS Gelombang ke-8 memiliki nilai strategis yang tinggi bagi Indonesia karena memungkinkan perbandingan langsung dengan negara-negara peserta WVS lain, termasuk negara-negara ASEAN, G20, dan negara berkembang lainnya. Selain menjadi rujukan akademik internasional, data tersebut juga dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan publik di bidang pendidikan, demokrasi, keagamaan, dan kesejahteraan sosial.
Saat ini tim peneliti Fakultas Psikologi UNS memasuki tahap penginputan, pembersihan, dan validasi data sesuai standar WVS Association sebelum diserahkan ke pusat WVS di Wina untuk diintegrasikan ke dalam basis data global.
Tahap berikutnya meliputi penulisan dan publikasi hasil penelitian di jurnal ilmiah internasional bereputasi, penyelenggaraan seminar dan forum diseminasi kepada pemangku kepentingan nasional, serta publikasi dataset terbuka melalui situs resmi World Values Survey worldvaluessurvey.org. Dataset dan infografis hasil survei nantinya dapat dimanfaatkan secara gratis oleh peneliti, jurnalis, mahasiswa, maupun masyarakat umum.
41 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·