Insiden tabrakan antara kereta api Argo Bromo Anggrek dengan rangkaian KRL Commuter Line di kawasan Bekasi Timur pada Selasa (28/4/2026) mengakibatkan 14 penumpang meninggal dunia. Dilansir dari Detikcom, peristiwa tragis ini juga menyebabkan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka serius.
Data terbaru menunjukkan peningkatan jumlah korban jiwa dan luka yang signifikan akibat benturan keras tersebut. Pihak otoritas terkait masih terus melakukan upaya penanganan di lokasi kejadian untuk mengevakuasi para penumpang yang terdampak.
"Update 08.45 WIB: 14 meninggal dunia, 84 korban luka, proses penanganan masih berlangsung," kata VP Corporate Communication KAI Anne Purba.
Salah satu korban tewas teridentifikasi bernama Nuryati (62), yang saat kejadian sedang dalam perjalanan menuju Cikarang. Anak sulung korban menceritakan bahwa ibundanya adalah pribadi yang sangat memperhatikan keluarga dan aktif dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
"Baik, baik banget. Sayang juga sama anak-anaknya, perhatian sama anak-anaknya," kata Halimah.
Halimah mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok sang ibu setelah melihat banyaknya pelayat yang datang memberikan penghormatan terakhir. Ia menyebut ibunya dikenal sebagai warga yang pendiam namun memiliki pergaulan yang luas di wilayahnya.
"Sama warga juga aktif di wilayah dari dulu. Kayak tadi juga teman-teman Mama juga kaget. Maksudnya. Mama tuh orang baik, diem, enggak pernah banyak ngomong. Banyak temannya," kata Halimah.
Keluarga tidak menyangka akan kehilangan Nuryati secara mendadak dalam kecelakaan transportasi tersebut. Kehadiran para pelayat yang memenuhi rumah duka memberikan kesan mendalam bagi anak-anak korban.
"Makanya tadi Masya Allah banget ya tamunya Mama tuh banyak banget. Makanya kita juga sampai kaget. Mama punya amalan apa gitu sampai tamunya tuh banyak banget. Yang kita nggak tahu ya setelah Mama enggak ada," tambahnya.
Tujuan keberangkatan Nuryati pagi itu adalah untuk menjenguk salah satu anaknya yang sedang menjalani perawatan medis. Rencana kunjungan keluarga tersebut berujung duka setelah kereta yang ditumpanginya mengalami kecelakaan.
"Mau ke Cikarang, ke tempat adik saya, mau nengokin adik saya yang sakit, di rumah sakit, kan dirawat," ujarnya.
Sebelum musibah terjadi, Nuryati masih sempat berbincang dengan anak pertamanya mengenai rencana kegiatan organisasi di lingkungan rumah. Pertemuan singkat di pagi hari itu menjadi momen terakhir kebersamaan mereka.
"Iya jam sampai 6.30 WIB itu masih di sini di rumah saya. Sama lagi ngomongin masalah PKK, bahas masalah PKK kan mau ada kegiatan. Mama juga aktif di PKK, saya juga di PKK. Jadi ngebahas itu di PKK," ujarnya.
Berdasarkan dokumentasi video di lokasi, situasi Stasiun Bekasi Timur dilaporkan sangat mencekam dengan kepanikan luar biasa dari para penumpang. Kondisi di dalam gerbong KRL yang gelap gulita setelah listrik padam menambah kesulitan proses evakuasi mandiri oleh warga dan petugas.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·