Jakarta (ANTARA) - Jaksa Agung Negara Bagian North Carolina di Amerika Serikat (AS) menggugat VinFast karena proyek pembangunan pabrik mobil listriknya di wilayah itu terhenti.
Menurut siaran Carscoops pada Sabtu, Jaksa Agung North Carolina Jeff Jackson menggugat produsen mobil asal Vietnam itu dengan tuduhan bahwa perusahaan telah "melanggar perjanjiannya dengan negara bagian dalam pengembangan fasilitas manufaktur kendaraan listrik dan baterai di Chatham County."
VinFast empat tahun lalu mengumumkan rencana untuk membangun fasilitas produksi baru di North Carolina yang ditargetkan bisa mulai memproduksi kendaraan pada tahun 2024.
Upacara peletakan batu pertama pembangunan pabrik itu secara simbolis diadakan pada 2023.
Pada fase pertama pengembangan, investasi hingga 2 miliar dolar AS dibutuhkan untuk membangun kompleks seluas 1.800 are yang akan mencakup lima area produksi utama termasuk area produksi bodi kendaraan, perakitan, pengepresan, pengecatan, dan pusat energi.
Pabrik dengan kapasitas produksi tahunan sampai 150 ribu unit kendaraan itu rencananya memproduksi model VinFast VF 7, VinFast VF 8, dan VinFast VF 9.
Setelah menunda jadwal produksi sampai tahun 2025, VinFast pada Juli 2024 menghentikan sementara pelaksanaan rencananya setelah peluncuran bisnisnya di AS tidak berjalan mulus.
Saat itu, perusahaan menyebut pabrik baru akan mulai beroperasi pada 2028 dengan skala lebih kecil dari rencana awal.
Penghentian sementara proyek VinFast membuat pemerintah setempat kesal karena perusahaan itu telah menerima dana Hibah Investasi Pengembangan Pekerjaan untuk membangun pabrik tersebut dan Majelis Umum North Carolina mengalokasikan 450 juta dolar AS untuk mendukung "persiapan lahan, peningkatan transportasi, serta infrastruktur air dan saluran pembuangan yang terkait dengan proyek tersebut."
Baca juga: VinFast menghadapi kendala di pasar Amerika Serikat
Baca juga: VinFast tunda pengiriman mobil perdana ke Amerika Serikat
Menurut kantor Jaksa Agung, VinFast telah melakukan pembersihan dan perataan lahan pada 2023 tetapi gagal memenuhi sejumlah kewajiban utama dan target kinerja yang tercantum dalam perjanjian.
Perjanjian ini dirancang untuk melindungi uang pembayar pajak dan mengharuskan produsen mobil tersebut untuk mengembalikan "dana persiapan lahan tertentu jika tolok ukur yang ditentukan tidak terpenuhi."
Perjanjian ini juga memberikan hak kepada pemerintah negara bagian untuk mengambil alih lokasi proyek apabila perusahaan gagal memenuhi memenuhi persyaratan kinerja utama.
Berdasarkan perjanjian, fasilitas tersebut seharusnya sudah beroperasi pada Juli 2026 dan menciptakan 1.750 lapangan kerja hingga akhir tahun 2026.
Departemen Kehakiman North Carolina telah memberi tahu VinFast pada Januari 2026 bahwa perusahaan dianggap gagal memenuhi perjanjian dan pemerintah berniat mengambil alih lokasi proyek.
"VinFast setuju untuk membangun pabrik dan menciptakan lapangan kerja bagi warga North Carolina Utara – mereka tidak melakukan keduanya," kata Jaksa Agung Jackson.
VinFast membantah tuduhan tersebut, menyatakan telah memenuhi tenggat pembangunan dan akan membuka pabrik pada 2028.
Perusahaan menyebut perubahan kebijakan AS baru-baru ini terkait dengan industri kendaraan listrik telah memengaruhi jadwal proyek, sehingga mereka membutuhkan waktu tambahan untuk mengevaluasi kondisi implementasi proyeknya.
Baca juga: Model-model mobil listrik VinFast yang akan dirakit di pabrik Subang
Baca juga: Pabrik VinFast di Subang diprioritaskan untuk menyuplai pasar domestik
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
- Tags
- pabrik vinfast
- pabrik mobil listrik
- kebijakan amerika serikat
38 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·