Media sosial ramai membahas polemik penilaian dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. Perdebatan muncul setelah SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan juri karena merasa jawaban mereka sebenarnya memiliki substansi yang sama persis dengan tim lain, tetapi justru mendapat nilai minus lima.
Momen protes peserta yang meminta klarifikasi itu kemudian viral dan memicu beragam komentar warganet. Banyak yang menilai siswa berhak mempertanyakan keputusan yang dianggap tidak adil.
Psikolog Sebut Pentingnya Anak Berani Speak Up saat Merasa Tidak Adil
Menanggapi hal tersebut, Psikolog Pendidikan, Madeline Jessica, M.Psi, Psikolog, menilai situasi ini memperlihatkan pentingnya mengajarkan anak untuk berani menyampaikan pendapat ketika merasa diperlakukan tidak adil.
Menurut Madeline, keberanian anak untuk speak up berkaitan erat dengan perkembangan rasa percaya diri, harga diri, dan keberanian sosial. Dalam teori perkembangan psikososial Erik Erikson, anak usia sekolah berada pada tahap industry vs inferiority, yaitu fase ketika anak mulai menilai dirinya berdasarkan bagaimana lingkungan menghargai usaha dan suaranya.
“Ketika anak merasa diperlakukan tidak adil tetapi tidak diberi ruang untuk menjelaskan, anak bisa belajar bahwa pendapatnya tidak penting atau lebih aman untuk diam,” ucap Madeline kepada kumparanMOM, Senin (11/5).
Sebaliknya, saat anak berani menyampaikan keberatan dengan sopan, hal itu menunjukkan berkembangnya kemampuan berpikir kritis. Penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang merasa didengar oleh orang dewasa cenderung memiliki self-esteem lebih baik, kemampuan komunikasi yang sehat, serta lebih percaya diri dalam situasi sosial maupun akademik.
Madeline menegaskan bahwa inti dari situasi seperti ini bukan sekadar soal benar atau salahnya jawaban. Menurutnya, pendidikan juga perlu menjadi ruang yang membuat anak merasa dihargai dan diperlakukan secara adil.
Anak Perlu Dibiasakan Berani Berpendapat
Selain itu, Madeline menyebut bahwa anak yang berani menyampaikan pendapat biasanya tumbuh dari lingkungan yang aman secara emosional. Dalam teori attachment, anak yang merasa diterima dan didengar oleh orang tua akan lebih percaya diri untuk mengekspresikan dirinya.
“Selain itu, pola asuh authoritative juga dikaitkan dengan anak yang lebih percaya diri, mampu berpikir mandiri, dan memiliki keterampilan sosial yang baik. Anak perlu dibiasakan bahwa mereka boleh memiliki pendapat dan boleh bertanya, tanpa takut langsung dimarahi atau dipermalukan,” tegasnya.
Penelitian dari American Psychological Association juga menunjukkan bahwa lingkungan yang suportif membantu anak mengembangkan kemampuan assertive communication, yaitu kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan dengan tegas namun tetap menghormati orang lain.
Orang Tua Jangan Langsung Menganggap Anak Membangkang
Bukan cuma itu, Madeline juga mengingatkan bahwa ketika anak mulai mempertanyakan sesuatu, orang tua sebaiknya tidak langsung menganggapnya sebagai perilaku menentang.
“Dalam teori perkembangan kognitif dari Piaget, anak usia sekolah mulai memahami konsep logika, aturan, dan keadilan secara lebih kompleks,” sambungnya.
Oleh karena itu, wajar jika anak mulai mempertanyakan sesuatu yang menurut mereka terasa tidak konsisten atau tidak adil. Ketika anak didengarkan, divalidasi emosinya, lalu diarahkan cara menyampaikan pendapat dengan sopan, anak akan belajar bahwa berdiskusi adalah sesuatu yang sehat.
“Kemampuan untuk menyampaikan keberatan secara hormat merupakan life skill penting yang akan berguna dalam relasi sosial, pendidikan, bahkan dunia kerja mereka di masa depan,” pungkas Madeline.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·