Jakarta (ANTARA) - Sebuah ungkapan terkenal pernah dilontarkan oleh cendekiawan muslim Nurcholis Madjid. Ia mengatakan bahwa agama dan tradisi itu dua hal yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.
Itulah sebabnya dalam Islam ada agama Islam dan tradisi Islam yang tidak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedakan. Kelahiran sebuah agama termasuk kepercayaan di sebuah tempat akan menumbuhkan tradisi yang terus berkembang seiring waktu yang tidak dapat ditolak karena merupakan sebuah keniscayaan.
Agama turun tentu tidak di ruang hampa. Ia hadir pada ruang dan waktu tertentu dengan masyarakat yang memiliki tradisi setempat, lalu seiring perjalanan waktu berkembang ke ruang yang lebih luas dengan masyarakat yang memiliki tradisi beragam.
Hal itulah yang menjelaskan mengapa wajah Islam di Maroko dan wajah Islam di Indonesia pernah diteliti dan diulas dengan cara menarik oleh Clifford James Geertz, yang kemudian namanya lebih dikenal dengan dua suku kata saja sebagai Clifford Geertz, seorang antropolog dan sosiolog Amerika pada tahun 60-an.
Clifford Geertz melukiskan wajah Islam yang memiliki kemiripan maupun perbedaan di kedua negara tersebut. Interaksi ajaran agama Islam dengan tradisi setempat kemudian memunculkan ekspresi beragama atau wajah Islam yang khas, yaitu resultan dari ajaran dan tradisi masyarakat.
Pada artikel ini, penulis akan mengulas ritual kurban yang dilaksanakan umat Islam di Indonesia sebagai sebuah ajaran agama Islam dan tradisi Islam sehingga singkatnya kurban sebagai ibadah ritual personal dan kurban sebagai tradisi. Keduanya tidak dapat dipisahkan, tetapi sekali lagi dapat dibedakan.
Sebagai ibadah ritual yang personal, tentu tidak dapat diperdebatkan lagi bahwa secara fiqih yang diyakini secara luas oleh umat Islam, kurban adalah ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri pada Tuhan YME dengan menyembelih kambing atau domba yang kemudian berdasarkan ijtihad para ulama dapat pula menggunakan unta, sapi, kerbau.
Setiap satu ekor kambing atau domba untuk ibadah kurban satu orang, sementara untuk satu ekor unta, sapi, atau kerbau untuk ibadah kurban tujuh orang.
Memang ada pendapat lain yang lebih sedikit yang menyatakan bahwa satu ekor kambing atau domba dapat menjadi ibadah kurban untuk satu keluarga. Penyembelihan dilakukan pada Hari Raya Idul Adha yaitu setelah shalat Id hingga tiga hari berikutnya yang disebut hari tasyrik.
Hari Raya Idul Adha di beberapa tempat di Indonesia seperti kabupaten tertentu di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur sangat meriah. Jauh lebih meriah dibanding perayaan Idul Fitri.
Selepas penyembelihan daging kurban dibagikan untuk masyarakat setempat, fakir miskin, serta sebagian untuk pemilik yang berqurban. Malam harinya karena setiap keluarga memiliki daging, maka seringkali dilakukan kegiatan membakar sate berjamaah baik di setiap keluarga, rukun tetangga, hingga komunitas-komunitas.
Bakar sate berjamaah tentu bukan ajaran Islam, tetapi berkembang menjadi tradisi yang muncul di setiap pelaksanaan kurban.
Wajah Islam
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
54 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·