Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka mengemukakan pentingnya pembagian peran seimbang antara ayah dan ibu untuk ketahanan keluarga.
Isyana menyoroti tantangan bonus demografi Indonesia, di mana tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan masih berada di angka 56,63 persen, jauh tertinggal dibandingkan laki-laki yang mencapai 84 persen. Rendahnya partisipasi angkatan kerja perempuan tersebut menjadi salah satu isu krusial yang perlu diperhatikan dalam mengoptimalkan potensi penduduk perempuan.
"Kolaborasi itu tidak hanya antar-kementerian atau lembaga, tetapi harus dimulai dari rumah sebagai unit terkecil masyarakat. Agar Indonesia Emas 2045 terwujud, kita harus memanfaatkan bonus demografi sejak sekarang, dan itu dimulai dengan berbagi peran antara ayah dan ibu dalam pengasuhan anak," ujar Isyana dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Sejalan dengan Astacita keempat Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia serta penguatan peran perempuan, Kemendukbangga/BKKBN mengusung program strategis Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) sebagai langkah konkret merespons fenomena negara dengan kurangnya peran ayah atau fatherless country.
Berdasarkan pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK-25) pada akhir 2025, angka ketidakhadiran peran ayah di Indonesia telah mencapai 25,8 persen. Oleh karena itu, program ini hadir bukan sekadar untuk mendorong ayah "membantu ibu," melainkan secara strategis memposisikan ayah sebagai pilar krusial dan aktor utama dalam ketahanan keluarga.
Melalui keterlibatan aktif ayah guna menciptakan keseimbangan tumbuh kembang anak serta keharmonisan keluarga, GATI berupaya menjawab tantangan isu nasional tersebut demi memastikan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas sejak dini melalui pola asuh yang seimbang dan utuh.
Baca juga: Wamendukbangga: Perempuan pilar kesuksesan Indonesia Emas 2045
Selain itu, pemerintah juga menghadirkan program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) sebagai solusi pengasuhan komprehensif yang melampaui sekadar fungsi penitipan anak konvensional. Melalui standardisasi pola asuh yang terukur, setiap anak mendapatkan stimulasi perkembangan kognitif, motorik, dan emosional yang intensif di bawah bimbingan tenaga pendidik profesional yang memahami psikologi perkembangan.
Lingkungan ini dirancang untuk menciptakan suasana "rumah kedua" yang menghadirkan keamanan sekaligus kenyamanan psikologis, sehingga para ibu bekerja memiliki ketenangan pikiran dan kepercayaan penuh bahwa buah hati mereka tumbuh dalam ekosistem asuh yang berkualitas, edukatif, dan penuh kasih sayang.
"Yang terpenting adalah perempuan punya kesempatan untuk memilih sesuai kata hatinya, baik itu bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Tugas pemerintah melalui program seperti Tamasya adalah memastikan ada sistem pendukung yang baik bagi pilihan tersebut," tuturnya.
Isyana mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergerak bersama menuju tahun 2045. Ia meyakini, dengan koordinasi yang kuat di tingkat pusat hingga kolaborasi di tingkat keluarga, Indonesia akan mampu melahirkan generasi unggul yang berdaya saing global dan memiliki ketahanan keluarga yang kokoh.
Baca juga: Wamen Isyana soroti peran orang tua sebelum titipkan anak di daycare
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·