PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Hilangnya Nely Siska (43) yang diduga tenggelam di aliran Sungai Kahayan, kawasan Jalan Rindang Banua, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Sabtu (30/5/2026) malam, menyisakan tanda tanya bagi keluarga. Pihak keluarga menduga korban tidak sekadar terpeleset ke sungai, mengingat adanya pagar pembatas di lokasi kejadian serta sejumlah temuan yang dinilai janggal.
Aspiya Riati (22), ipar korban, mengatakan peristiwa tersebut pertama kali disadari oleh suami korban. Sebelum kejadian, Nely diketahui pamit untuk mandi usai menunaikan salat Magrib. Namun, korban tidak kunjung kembali meski mesin pompa air masih menyala dan air terus mengalir.
“Di rumah itu hanya ada dua orang, suami istri. Suaminya yang pertama kali sadar karena istrinya tidak kunjung kembali. Apalagi mesin pompa air masih hidup,” ungkap Aspiya saat ditemui di lokasi kejadian, Sabtu (30/5/2026) malam.
Kecurigaan keluarga semakin bertambah setelah pintu belakang rumah yang mengarah langsung ke sungai ditemukan dalam keadaan terbuka. Selain itu, perlengkapan mandi berupa tapih (sarung) dan handuk ditemukan masih berada di dekat lokasi.
Menurut Aspiya, kecil kemungkinan korban murni terpeleset secara tidak sengaja. Pasalnya, di area pintu belakang yang mengarah ke sungai terdapat pagar pembatas kayu dengan tinggi mencapai setengah badan orang dewasa.
“Kecil kemungkinan korban murni terpeleset secara tidak sengaja. Di area pintu belakang yang mengarah ke sungai tersebut, terdapat pagar pembatas kayu yang tingginya mencapai setengah badan orang dewasa,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa korban diketahui tidak bisa berenang.

“Kalau dibilang terpeleset sepertinya tidak mungkin, karena ada pagar pembatas setengah badan di situ. Korban juga diketahui sama sekali tidak bisa berenang,” terangnya.
Lebih lanjut, Aspiya menyebut tidak ada riwayat pertengkaran antara korban dan suaminya sebelum kejadian. Korban juga dalam kondisi sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit bawaan.
Dari keterangan tetangga yang disampaikan kepada keluarga, seorang warga yang baru pindah di sebelah rumah korban sempat mendengar suara riak air besar seperti seseorang terjatuh ke sungai. Namun saat itu suara tersebut tidak menimbulkan kecurigaan karena warga mengira berasal dari aktivitas mandi di sungai yang biasa dilakukan masyarakat sekitar.
“Tetangga sebelah sempat mendengar riak air besar seperti orang terjun, namun tetangga mengira itu hanyalah suara warga atau anak-anak yang biasa mandi di sungai pada waktu tersebut,” tuturnya.
Keterangan itu disebut semakin menguat setelah ada informasi dari warga di seberang sungai yang mengaku sempat melihat sosok hanyut terbawa arus. Namun saat itu mereka tidak menyadari bahwa sosok tersebut diduga orang dewasa yang tenggelam.
“Ujar orang di sebelah sana tadi sempat melihat ada yang hanyut, rambutnya saja yang kelihatan. Tapi mereka tidak mengira kalau itu orang dewasa yang tenggelam, karena biasa anak-anak kecil sering berenang dan wara-wiri di situ habis Magrib,” tambah Aspiya.
Menyadari situasi tersebut, keluarga bersama warga setempat segera menghubungi layanan darurat. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, Damkar, Kepolisian, dan unsur relawan lainnya tiba di lokasi selepas waktu Isya untuk melakukan penyisiran dan operasi pencarian.
Hingga malam hari, tim SAR gabungan telah menyelesaikan penyisiran di aliran Sungai Kahayan kawasan Rindang Banua. Operasi pencarian akan dilanjutkan kembali pada Minggu pagi guna menemukan keberadaan korban. (her)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Hilangnya Nely Siska (43) yang diduga tenggelam di aliran Sungai Kahayan, kawasan Jalan Rindang Banua, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Sabtu (30/5/2026) malam, menyisakan tanda tanya bagi keluarga. Pihak keluarga menduga korban tidak sekadar terpeleset ke sungai, mengingat adanya pagar pembatas di lokasi kejadian serta sejumlah temuan yang dinilai janggal.
Aspiya Riati (22), ipar korban, mengatakan peristiwa tersebut pertama kali disadari oleh suami korban. Sebelum kejadian, Nely diketahui pamit untuk mandi usai menunaikan salat Magrib. Namun, korban tidak kunjung kembali meski mesin pompa air masih menyala dan air terus mengalir.
“Di rumah itu hanya ada dua orang, suami istri. Suaminya yang pertama kali sadar karena istrinya tidak kunjung kembali. Apalagi mesin pompa air masih hidup,” ungkap Aspiya saat ditemui di lokasi kejadian, Sabtu (30/5/2026) malam.

Kecurigaan keluarga semakin bertambah setelah pintu belakang rumah yang mengarah langsung ke sungai ditemukan dalam keadaan terbuka. Selain itu, perlengkapan mandi berupa tapih (sarung) dan handuk ditemukan masih berada di dekat lokasi.
Menurut Aspiya, kecil kemungkinan korban murni terpeleset secara tidak sengaja. Pasalnya, di area pintu belakang yang mengarah ke sungai terdapat pagar pembatas kayu dengan tinggi mencapai setengah badan orang dewasa.
“Kecil kemungkinan korban murni terpeleset secara tidak sengaja. Di area pintu belakang yang mengarah ke sungai tersebut, terdapat pagar pembatas kayu yang tingginya mencapai setengah badan orang dewasa,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa korban diketahui tidak bisa berenang.
“Kalau dibilang terpeleset sepertinya tidak mungkin, karena ada pagar pembatas setengah badan di situ. Korban juga diketahui sama sekali tidak bisa berenang,” terangnya.
Lebih lanjut, Aspiya menyebut tidak ada riwayat pertengkaran antara korban dan suaminya sebelum kejadian. Korban juga dalam kondisi sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit bawaan.
Dari keterangan tetangga yang disampaikan kepada keluarga, seorang warga yang baru pindah di sebelah rumah korban sempat mendengar suara riak air besar seperti seseorang terjatuh ke sungai. Namun saat itu suara tersebut tidak menimbulkan kecurigaan karena warga mengira berasal dari aktivitas mandi di sungai yang biasa dilakukan masyarakat sekitar.
“Tetangga sebelah sempat mendengar riak air besar seperti orang terjun, namun tetangga mengira itu hanyalah suara warga atau anak-anak yang biasa mandi di sungai pada waktu tersebut,” tuturnya.
Keterangan itu disebut semakin menguat setelah ada informasi dari warga di seberang sungai yang mengaku sempat melihat sosok hanyut terbawa arus. Namun saat itu mereka tidak menyadari bahwa sosok tersebut diduga orang dewasa yang tenggelam.
“Ujar orang di sebelah sana tadi sempat melihat ada yang hanyut, rambutnya saja yang kelihatan. Tapi mereka tidak mengira kalau itu orang dewasa yang tenggelam, karena biasa anak-anak kecil sering berenang dan wara-wiri di situ habis Magrib,” tambah Aspiya.
Menyadari situasi tersebut, keluarga bersama warga setempat segera menghubungi layanan darurat. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, Damkar, Kepolisian, dan unsur relawan lainnya tiba di lokasi selepas waktu Isya untuk melakukan penyisiran dan operasi pencarian.
Hingga malam hari, tim SAR gabungan telah menyelesaikan penyisiran di aliran Sungai Kahayan kawasan Rindang Banua. Operasi pencarian akan dilanjutkan kembali pada Minggu pagi guna menemukan keberadaan korban. (her)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·