WHO Tetapkan Wabah Ebola di RD Kongo Darurat Kesehatan Internasional

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Keputusan ini diambil menyusul penyebaran virus yang dinilai semakin kompleks.

Penyakit mematikan ini bersumber dari laporan di Provinsi Ituri, wilayah timur RD Kongo. Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat sekitar 246 kasus suspek dan menyebabkan 80 kematian di daerah tersebut.

Meskipun demikian, pihak WHO menyatakan bahwa kondisi di lapangan belum memenuhi kriteria darurat pandemi. Wabah yang sedang berlangsung saat ini terkonfirmasi dipicu oleh virus Ebola galur Bundibugyo.

Hingga kini, otoritas kesehatan belum menyetujui keberadaan obat maupun vaksin khusus untuk menangkal galur Bundibugyo tersebut. WHO memperingatkan potensi lonjakan kasus yang jauh lebih besar dari data yang terdeteksi saat ini.

Dikutip dari Detikcom, virus ini menyebar antarmanusia melalui perantaraan cairan tubuh yang telah terinfeksi, seperti muntahan dan darah. Masa inkubasi virus berkisar antara dua sampai 21 hari setelah tubuh terpapar.

Gejala awal penyakit ini muncul mendadak menyerupai flu, meliputi demam, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, serta sakit tenggorokan. Kondisi pasien dapat memburuk dengan gejala muntah, diare, ruam, gangguan fungsi organ, hingga perdarahan internal dan eksternal.

Data laboratorium saat ini mengonfirmasi delapan kasus positif Ebola. Sebaran kasus suspek serta angka kematian terdeteksi di tiga zona kesehatan, termasuk ibu kota Provinsi Ituri, Bunia, serta wilayah tambang emas Mongwalu dan Rwampara.

Satu kasus positif juga ditemukan di ibu kota RD Kongo, Kinshasa, dari seorang pasien yang memiliki riwayat perjalanan dari Provinsi Ituri. Selain itu, penularan dilaporkan telah melewati batas negara.

Wilayah tetangga, Uganda, mencatat dua kasus yang terkonfirmasi secara laboratorium. Otoritas Uganda melaporkan seorang pria berusia 59 tahun asal Kongo meninggal dunia pada Kamis (14/05) dan dinyatakan positif mengidap Ebola.

Pemerintah Uganda kini telah memulangkan jenazah warga negara Kongo tersebut ke negara asalnya. Sementara itu, satu kasus lain terkonfirmasi di Kota Goma, wilayah timur yang kini berada di bawah kendali kelompok pemberontak M23.

Kondisi keamanan yang tidak stabil, krisis kemanusiaan, mobilitas penduduk yang tinggi, serta keberadaan fasilitas kesehatan informal di perkotaan menjadi faktor pemicu tingginya risiko penularan di RD Kongo.

Langkah Pencegahan dan Respons Regional

Negara yang berbatasan langsung langsung memperketat pengawasan karena faktor aktivitas perdagangan dan perjalanan yang intens. Pemerintah Rwanda menerapkan pemeriksaan ketat di perbatasan sebagai tindakan preventif.

Kementerian Kesehatan Rwanda memperkuat sistem pemantauan dan menyiagakan tim medis guna mendeteksi secara dini serta memberikan respons cepat. Risiko kematian akibat galur Bundibugyo ini tercatat mencapai 30 persen pada wabah sebelumnya.

WHO merekomendasikan agar RD Kongo bersama Uganda segera mengaktifkan pusat operasi darurat demi memantau, melacak kontak, dan menerapkan protokol pencegahan infeksi secara ketat.

Pasien yang terkonfirmasi positif wajib segera diisolasi serta mendapatkan perawatan intensif. Proses isolasi baru dapat diakhiri setelah dua hasil tes virus Bundibugyo menunjukkan hasil negatif dengan jeda waktu minimal 48 jam.

Bagi wilayah yang bertetangga dengan zona infeksi, pemerintah setempat diimbau meningkatkan pelaporan kesehatan. Namun, WHO menegaskan agar negara di luar wilayah terdampak tidak menutup perbatasan atau membatasi arus perdagangan.

Langkah penutupan dinilai sering kali dipicu oleh ketakutan tanpa dasar ilmiah yang kuat. Sebagai catatan sejarah, wabah Ebola paling mematikan di RD Kongo terjadi pada periode 2018 hingga 2020 dengan korban jiwa mencapai hampir 2.300 orang.

Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberikan peringatan mengenai situasi terkini di Afrika Tengah tersebut.

"Saat ini terdapat ketidakpastian signifikan mengenai jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi dan penyebaran wabah tersebut secara geografis." kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Pernyataan darurat dari WHO ini bukan berarti dunia sedang memasuki fase awal pandemi global baru. Risiko penyebaran Ebola ke skala internasional di luar wilayah tersebut dinilai masih sangat rendah.

"Namun hal ini mencerminkan bahwa situasinya cukup kompleks sehingga memerlukan koordinasi internasional," kata Dr Amanda Rojek dari Pandemic Sciences Institute di Universitas Oxford.

Ancaman penularan yang nyata saat ini berfokus pada negara-negara tetangga yang berdekatan langsung dengan RD Kongo, seperti Uganda, Sudan Selatan, dan Rwanda. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 dan diduga berawal dari kelelawar pemakan buah.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Afrika (Africa CDC) menaruh perhatian khusus pada pergerakan penduduk di wilayah pertambangan Mongwalu, Bunia, dan Rwampara. Koordinasi regional menjadi kunci utama penekanan laju penularan virus.