WHO: Wabah Penyakit Menular Semakin Sering Terjadi

Sedang Trending 1 hari yang lalu

DEWAN Pemantauan Kesiapsiagaan Global atau Global Preparedness Monitoring Board (GPMB), lembaga independen yang dibentuk oleh World Health Organization (WHO) dan World Bank, memperingatkan bahwa wabah penyakit menular di dunia terjadi semakin sering dan membawa dampak yang semakin besar terhadap berbagai sektor kehidupan.

Dalam laporan terbaru mengenai kesiapsiagaan menghadapi pandemi yang dirilis pada Senin, 18 Mei 2026, GPMB menyebut dunia belum berada dalam kondisi yang lebih aman dibanding beberapa tahun lalu. Menurut laporan tersebut, peningkatan frekuensi wabah kini disertai dampak yang meluas, tidak hanya pada sektor kesehatan, tetapi juga ekonomi, politik, dan sosial masyarakat global.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Seiring meningkatnya frekuensi wabah penyakit menular, dampaknya juga semakin luas — meliputi kesehatan, ekonomi, politik, dan sosial — serta kapasitas pemulihan yang semakin terbatas,” demikian isi laporan tersebut.

GPMB dibentuk setelah wabah Ebola besar di Afrika Barat pada 2013-2016 yang menewaskan ribuan orang dan memicu kritik terhadap kesiapan dunia menghadapi krisis kesehatan global. Namun, menurut dewan tersebut, investasi dan reformasi yang dilakukan selama satu dekade terakhir belum cukup untuk menghadapi ancaman pandemi yang terus berkembang.

Laporan itu menyoroti bahwa lonjakan pendanaan global selama pandemi COVID-19 ternyata tidak berlanjut dalam jangka panjang. Setelah pandemi mereda, bantuan pembangunan untuk sektor kesehatan kembali turun hingga mendekati level tahun 2009 dan porsinya dalam keseluruhan bantuan pembangunan internasional juga terus menyusut.

Selain memperingatkan soal pendanaan, GPMB juga menyerukan pembentukan mekanisme pemantauan independen permanen yang bertugas mengevaluasi kesiapan dunia menghadapi pandemi berikutnya. Menurut dewan tersebut, pengawasan global yang lebih kuat diperlukan agar negara-negara tidak kembali lengah setelah krisis mereda.

Laporan itu juga menekankan pentingnya pemerataan akses terhadap vaksin, alat tes, dan pengobatan penting melalui kesepakatan pandemi global yang saat ini masih dibahas berbagai negara anggota WHO.

Peringatan tersebut muncul ketika WHO pada Ahad, 17 Mei 2026, menetapkan status darurat kesehatan publik setelah muncul lebih dari 250 kasus suspek dan sedikitnya 80 kematian yang diduga terkait wabah Ebola di Democratic Republic of the Congo.

WHO menyebut wabah terbaru itu disebabkan virus Ebola galur Bundibugyo, jenis yang berbeda dari galur Zaire yang memicu epidemi besar di Afrika Barat satu dekade lalu. Hingga kini, WHO belum menetapkan wabah tersebut sebagai pandemi global, tetapi memperingatkan risiko penyebaran lintas wilayah tetap harus diwaspadai.