Presiden China Xi Jinping mempererat koordinasi strategis bilateral dengan Rusia saat menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov di Balai Besar Rakyat, Beijing, pada Rabu (15/4/2026). Langkah ini diambil guna menjaga kepentingan kedua negara di tengah ketidakpastian situasi internasional dan konflik Timur Tengah yang terus bergejolak.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, stabilitas hubungan Beijing dan Moskow dinilai Xi sangat berharga untuk menghadirkan kepastian bagi persatuan negara-negara Global South. Kedua pihak berkomitmen memperdalam kerja sama menyeluruh untuk meningkatkan ketahanan pembangunan masing-masing, terutama dalam sektor ekonomi dan politik luar negeri.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan kesiapan Moskow untuk mendukung kebutuhan energi Beijing di tengah gangguan pasokan global. Lavrov menyatakan bahwa Rusia mampu mengompensasi kekurangan sumber daya yang dialami China akibat penutupan jalur energi di Teluk.
Krisis di Selat Hormuz yang pecah sejak akhir Februari 2026 telah menyebabkan penurunan impor minyak dan gas alam China secara signifikan. Bahkan, volume penjualan minyak mentah dari Arab Saudi ke China diprediksi akan menyusut hingga 50 persen pada bulan depan.
Kerja sama ini juga menjadi posisi tawar bagi kedua negara setelah sebelumnya memveto resolusi Dewan Keamanan PBB terkait pembukaan Selat Hormuz secara militer. China berargumen bahwa usulan tersebut tidak seimbang karena gagal menyentuh akar permasalahan konflik yang melibatkan Iran.
"Di tengah situasi internasional yang penuh gejolak, stabilitas dan kepastian hubungan China-Rusia menjadi sangat berharga," ujar Xi kepada Lavrov sebagaimana dilaporkan oleh lembaga penyiaran negara, CCTV.
Selain membahas isu energi, Lavrov menyebutkan bahwa China dan Rusia sepakat mendukung upaya negosiasi untuk menyelesaikan konflik di Iran. Hal ini bertepatan dengan rencana Amerika Serikat dan Iran yang tengah berupaya mengatur putaran kedua pembicaraan damai.
Secara domestik, Beijing mulai merasakan tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya produksi yang memicu inflasi di tingkat produsen. Meski China telah memperkuat ketahanan energi dalam beberapa tahun terakhir, sektor manufaktur yang berorientasi konsumen mulai mengalami penurunan keuntungan.
Kunjungan Sergei Lavrov ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan diplomatik sebelum rencana lawatan Presiden Vladimir Putin ke China pada Mei 2026 mendatang. Putin juga dijadwalkan hadir dalam KTT APEC di Shenzhen yang akan diselenggarakan pada November 2026.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·