YouTuber Arun Maini Dideportasi dan Ditahan Imigrasi Amerika Serikat

Sedang Trending 2 jam yang lalu

YouTuber teknologi asal Inggris, Arun Rupesh Maini, dilaporkan mengalami penahanan dan deportasi oleh otoritas imigrasi Amerika Serikat saat melakukan perjalanan kerja untuk meliput proyek pembangunan stadion berteknologi tinggi. Penahanan tersebut berlangsung selama kurang lebih 26 jam sebelum ia dipulangkan ke negara asalnya, sebagaimana dilansir dari Tekno.

Kreator yang dikenal dengan nama Mrwhosetheboss ini mengungkapkan pengalaman tersebut dalam sesi wawancara bersama media e-sports Dexerto. Insiden bermula ketika Maini menerima tawaran proyek dokumentasi di Amerika Serikat dengan nilai kontrak mencapai 300.000 dollar AS atau setara Rp 5,2 miliar.

Setibanya di bandara, petugas imigrasi mulai melakukan interogasi mendalam mengenai tujuan kedatangannya. Maini kemudian digiring ke ruang pemeriksaan khusus dan ponsel miliknya disita, yang menyebabkannya kehilangan kontak dengan pihak sponsor di luar bandara.

Situasi pemeriksaan yang awalnya dianggap normal berangsur-angsur menjadi intimidatif seiring bertambahnya waktu interogasi. Maini mengaku dipindahkan ke ruangan tertutup dengan penjagaan ketat dari petugas keamanan.

"Saat itu, saya sudah takut. Semua petugas bersenjata," ucap Maini.

Selama proses penahanan tersebut, Maini juga diwajibkan menjalani pemeriksaan fisik secara menyeluruh oleh petugas bandara.

"Mereka benar-benar melepas semua pakaian saya dan memeriksa tubuh saya dengan berbagai cara. Sangat melanggar privasi," kata Maini.

Setelah rangkaian pemeriksaan selesai, ia ditempatkan di dalam sel tahanan tanpa akses komunikasi apa pun ke dunia luar.

"Saya sama sekali tidak punya cara untuk menghubungi siapa pun. Keluarga saya tidak tahu saya ada di mana. Saya ingat merasa seperti bukan manusia," ujarnya.

Maini menjelaskan bahwa ponselnya baru dikembalikan oleh petugas setelah pesawat yang mendeportasinya lepas landas dari wilayah AS. Kejadian ini mengakibatkan pembatalan proyek komersial senilai miliaran rupiah yang seharusnya ia kerjakan.

Hingga kini, alasan pasti penahanan ketat tersebut tidak dijelaskan secara rinci, namun diduga terkait dengan penggunaan visa yang tidak sesuai untuk aktivitas kerja berbayar bernilai besar. Dampak dari insiden masa lalu itu masih dirasakan Maini hingga saat ini karena namanya masuk dalam daftar pengawasan tambahan.

"Sekarang setiap kali saya pergi ke AS, saya selalu dibawa ke ruangan kedua karena ada tanda hitam di samping nama saya," kata Maini.