YouTuber Arun Maini Ditahan Bea Cukai AS Hingga Rugi Rp 4,9 Miliar

Sedang Trending 55 menit yang lalu

YouTuber teknologi ternama Arun Maini, yang populer dengan nama kanal Mrwhosetheboss, dilaporkan gagal menjalankan proyek senilai USD 300 ribu atau setara Rp 4,9 miliar akibat ditahan oleh petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (CBP). Penahanan tersebut terjadi saat Maini mendarat di bandara untuk meliput sebuah stadion canggih di negara tersebut.

Kegagalan produksi konten ini terungkap setelah Maini memberikan pernyataan dalam wawancara eksklusif bersama Dexerto, sebagaimana dilansir dari Detik iNET. Kreator asal Inggris dengan 22 juta pelanggan tersebut mengaku harus dideportasi kembali ke negara asalnya setelah menjalani proses pemeriksaan yang panjang dan traumatis oleh pihak imigrasi setempat.

Insiden bermula ketika Maini dihentikan oleh petugas sebelum sempat bertemu dengan tim produksinya. Interogasi yang dilakukan pihak CBP berkembang menjadi situasi yang sangat menekan bagi sang YouTuber karena tuduhan yang dianggapnya tidak berdasar.

"Mereka mulai bertanya semakin banyak hal dan menggali lebih dalam. Situasinya mulai memanas dan terasa seperti menuduh saya mencuri uang dari AS atau semacamnya," kata Maini.

Setelah interogasi awal, Maini dipindahkan ke ruang pemeriksaan tertutup dengan pengawalan bersenjata. Di lokasi tersebut, ia mengeklaim dipaksa melakukan prosedur pemeriksaan fisik yang sangat ofensif.

"Mereka membawa saya ke sel, melepas semua pakaian saya, lalu melakukan pemeriksaan fisik di berbagai bagian tubuh. Sangat melanggar privasi," ujarnya.

Kondisi penahanan semakin buruk lantaran pihak otoritas menyita telepon seluler milik Maini. Hal ini menyebabkan ia terputus dari komunikasi dengan pihak keluarga maupun sponsor proyek selama lebih dari satu hari penuh.

"Saya tidak bisa menghubungi siapa pun. Keluarga saya tidak tahu saya di mana. Saya merasa seperti bukan manusia," katanya.

Setelah ditahan selama 26 jam, Maini akhirnya dipulangkan ke Inggris melalui penerbangan deportasi. Dampak dari penolakan masuk tersebut mengakibatkan hilangnya potensi pendapatan besar karena pembatalan total agenda peliputan yang telah direncanakan sebelumnya.

Penyebab utama penahanan diduga berkaitan dengan ketidaksesuaian jenis visa untuk kegiatan peliputan komersial berbayar. Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, Maini menyatakan bahwa namanya masuk dalam daftar hitam yang memicu pemeriksaan tambahan setiap kali ia berkunjung ke Amerika Serikat.

"Setiap kali saya pergi ke AS sekarang, saya selalu dibawa ke ruang kedua untuk diperiksa lagi. Itu menakutkan dan membuat saya enggan kembali," ujarnya.

Permasalahan ini memicu diskusi luas mengenai aturan visa bagi kreator konten asing yang melakukan pekerjaan komersial di AS. Selain kendala administratif, kasus ini juga memicu dugaan praktik profiling rasial mengingat latar belakang etnis Maini yang sering menjadi sasaran pemeriksaan intensif di bandara.