Jakarta (ANTARA) -
Korban kecelakaan kereta api dinilai memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan melanjutkan aktivitas, meski masih menghadapi trauma psikologis pascakejadian.
Psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog mengatakan manusia pada dasarnya bersifat adaptif dan resilien, sehingga dalam kondisi tertentu tetap berupaya menjalani rutinitas meski belum sepenuhnya pulih.
“Ketika tidak ada pilihan lain, kebutuhan untuk melanjutkan hidup akan mendorong seseorang kembali beraktivitas, meskipun kondisi psikologisnya belum stabil,” kata Ratih saat dihubungi ANTARA, Selasa.
Ia menjelaskan, respons korban terhadap trauma dapat berbeda-beda. Sebagian memilih menunda aktivitas atau menghindari penggunaan kereta dengan beralih ke moda transportasi lain.
Namun, tidak sedikit korban yang memaksakan diri kembali beraktivitas seperti biasa dan terlihat seolah tidak mengalami gangguan.
“Perlu diwaspadai, kondisi yang terlihat baik-baik saja belum tentu menunjukkan bahwa traumanya sudah pulih,” ujarnya.
Baca juga: Psikolog: Trauma kecelakaan kereta berisiko berkembang jadi PTSD
Ratih menambahkan, upaya perbaikan fasilitas dan peningkatan layanan transportasi publik juga berperan dalam membantu memulihkan kepercayaan masyarakat untuk kembali menggunakan kereta.
Selain adaptasi, Psikolog yang tergabung dalam Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI itu menekankan pentingnya penanganan saat terjadi serangan panik, khususnya ketika korban berada di ruang publik seperti kereta.
Menurut dia, saat panic attack terjadi, korban disarankan untuk tetap berada di posisi aman, seperti duduk atau bersandar, serta mengatur napas secara perlahan.
Korban juga dapat meminta bantuan kepada penumpang lain atau petugas jika membutuhkan pertolongan, bahkan disarankan untuk turun di stasiun terdekat guna menenangkan diri.
“Hubungi kontak darurat atau orang terdekat untuk mendapatkan dukungan saat kondisi mulai tidak terkendali,” kata dia.
Lebih lanjut, Ratih menekankan peran keluarga dalam proses pemulihan trauma. Dukungan emosional seperti mendengarkan, menunjukkan empati, serta membantu korban menenangkan diri dinilai penting.
Ia juga mendorong korban untuk mendapatkan bantuan profesional dari psikolog klinis guna memperoleh penanganan yang tepat, termasuk melalui konseling dan terapi.
“Keluarga bisa mendampingi dan mendorong korban untuk mencari bantuan ahli agar proses pemulihan berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Kecelakaan kereta api di wilayah Bekasi sebelumnya menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, serta menyisakan dampak psikologis bagi para penyintas.
Ratih menegaskan bahwa pemulihan trauma membutuhkan kombinasi antara kekuatan individu, dukungan lingkungan, serta akses terhadap layanan kesehatan mental yang memadai.
Baca juga: Perempuan korban kecelakaan hadapi tekanan ganda saat pemulihan
Baca juga: Psikolog: Pemulihan trauma kecelakaan perlu dilakukan bertahap
Baca juga: Psikolog: Trauma kecelakaan kereta bisa picu kecemasan hingga depresi
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·