Air India Merugi Rp 41 Triliun Tata Group dan SIA Bahas Penyelamatan

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Maskapai penerbangan nasional India, Air India, mengalami tekanan finansial hebat setelah mencatatkan kerugian tahunan sebesar 220 miliar rupee atau sekitar Rp 41,15 triliun pada Jumat, 17 April 2026. Kondisi ini memicu pembicaraan darurat antara pemegang saham utama, Tata Group dan Singapore Airlines, mengenai potensi suntikan dana segar.

Besaran kerugian tersebut dilaporkan melampaui estimasi internal perusahaan dan menjadi tekanan finansial paling signifikan sejak akuisisi oleh Tata Group pada 2022. Dilansir dari Money melalui laporan The Straits Times, maskapai kini telah mengajukan permohonan dukungan pendanaan kepada para pemilik sahamnya guna menjaga kelangsungan operasional.

Informasi mengenai permintaan bantuan tersebut dikonfirmasi oleh pihak internal yang mengetahui jalannya diskusi terkait penyelamatan maskapai tersebut.

"Air India meminta bantuan keuangan dari para pemegang sahamnya," kata sumber yang dikutip dari warta The Economic Times.

Tata Group sebagai pemilik mayoritas kini tengah menjajaki skema injeksi modal bersama Singapore Airlines (SIA) yang menguasai 25,1 persen saham. Meski pembicaraan telah memasuki tahap krusial, terdapat kekhawatiran bahwa komitmen dana yang tersedia mungkin belum mencukupi seluruh kebutuhan restrukturisasi perusahaan.

"Jumlahnya masih dibahas tetapi mungkin lebih kecil dari yang dibutuhkan," ujar sumber dalam laporan The Straits Times.

Guna merespons krisis ini, Chief Executive Officer Singapore Airlines, Goh Choon Phong, dilaporkan mendatangi markas Tata Group di Bombay House, Mumbai. Ia dijadwalkan bertemu dengan jajaran petinggi termasuk Chairman Tata Sons, N. Chandrasekaran, untuk membahas kinerja keuangan yang terus merosot pasca-merger Vistara ke dalam Air India.

"Singapore Airlines CEO Goh Choon Phong akan bertemu eksekutif senior Tata Group untuk membahas Air India yang merugi," lapor Business Standard.

Pihak manajemen mengidentifikasi bahwa pembatasan wilayah udara akibat konflik geopolitik di Timur Tengah atau wilayah Asia Barat menjadi pemicu utama melonjaknya biaya operasional. Selain itu, gangguan operasional sistemik juga menghambat proses transformasi yang sedang dijalankan Tata Group.

"Pembatasan wilayah udara menyusul konflik Asia Barat disebut sebagai salah satu faktor yang meningkatkan biaya operasional maskapai," tulis laporan tersebut.

Selain masalah keuangan, Air India juga dihadapkan pada ketidakpastian kepemimpinan karena CEO Campbell Wilson dilaporkan akan segera meletakkan jabatannya. Tata Group saat ini tengah menyusun agenda untuk menentukan pengganti dalam waktu dekat guna memastikan strategi pemulihan tetap berjalan sesuai rencana.