Air India Merugi Rp43 Triliun dan Ajukan Suntikan Dana Darurat

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Maskapai Air India mencatatkan kerugian besar senilai 22.500 crore rupee atau setara 2,4 miliar dolar AS (sekitar Rp43,2 triliun) pada tahun fiskal 2026 yang berakhir Kamis, 16 April 2026. Kondisi finansial ini memaksa manajemen untuk mengajukan permohonan dukungan dana segar kepada para pemegang saham utamanya.

Dilansir dari Times of India, CEO Singapore Airlines (SIA) Goh Choon Phong dijadwalkan bertemu dengan Ketua Tata Sons sekaligus Ketua Air India N Chandrasekaran pada Kamis ini di Mumbai. Pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas krisis keuangan dan rencana suntikan modal dari Tata Group serta SIA yang memegang 25,1 persen saham Air India.

Lonjakan kerugian ini dipicu oleh sejumlah faktor krusial, termasuk kecelakaan fatal pesawat di Ahmedabad pada Juni tahun lalu. Selain itu, operasional maskapai terhambat oleh penutupan ruang udara Pakistan pasca-Operasi Sindoor serta dampak konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026.

Masalah internal juga menghantui maskapai setelah pengunduran diri CEO Campbell Wilson, sehingga manajemen kini tengah mencari pengganti di tengah tekanan finansial. Mengutip laporan Gulte, gangguan operasional dan ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang memperburuk kinerja emiten transportasi tersebut sepanjang tahun ini.

Ketua Tata Sons N Chandrasekaran telah memberikan peringatan keras kepada seluruh karyawan maskapai terkait kondisi ini. "Harus presisi dalam biaya dan tetap berpijak pada realitas situasi yang ada," kata Chandrasekaran pekan lalu sebagaimana dikutip dari laporan Times of India.

Kerugian Air India turut berdampak pada performa keuangan para pemegang sahamnya, di mana laba Singapore Airlines dilaporkan menurun. Sementara itu, Tata Sons juga menghadapi tekanan besar karena kerugian pada sejumlah unit bisnis barunya yang belum melantai di bursa, terutama Air India dan Tata Digital.

Meskipun terdapat rumor mengenai rencana penarikan diri Singapore Airlines dari kemitraan ini, sumber internal menyatakan hal tersebut kemungkinan besar tidak akan terjadi. Diskusi mengenai jumlah pasti pendanaan baru masih terus berlangsung antar pemangku kepentingan guna menyelamatkan maskapai yang diakuisisi Tata dari pemerintah pada Januari 2022 tersebut.