Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Slamet di Jawa Tengah pada Kamis, 23 April 2026, ditandai dengan lonjakan suhu kawah dan frekuensi kegempaan yang signifikan.
Suhu kawah gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut tercatat merangkak naik dari kisaran 280 derajat Celcius sebelum Maret 2026 menjadi 478 derajat Celcius pada Sabtu, 18 April 2026. Selain parameter suhu, data kegempaan menunjukkan kenaikan drastis pada jumlah gempa hembusan dan gempa berfrekuensi rendah yang mengindikasikan pergerakan magma ke kedalaman dangkal.
Kepala PVMBG, Priatin Hadi Wijaya, menjelaskan bahwa Gunung Slamet mencakup lima wilayah kabupaten yakni Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes sehingga diperlukan kesiapsiagaan bersama para pemangku kepentingan.
"Gunung Slamet ini meliputi lima kabupaten (Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes), sehingga hasil pemantauan kami perlu dikenalkan kepada para pemangku kepentingan agar ada kesiapsiagaan bersama," kata Kepala PVMBG Priatin.
Priatin menambahkan bahwa sosialisasi merupakan langkah krusial untuk menyampaikan kondisi terkini kepada pemerintah daerah dan tokoh masyarakat agar langkah responsif dapat terorganisir dengan baik.
"Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika di dalam tubuh gunung api, sehingga perlu kewaspadaan bersama," jelas Priatin.
Pemantauan dilakukan secara komprehensif menggunakan kombinasi metode visual dan instrumental, termasuk penggunaan CCTV, seismograf, serta tiltmeter untuk mendeteksi deformasi tubuh gunung.
"Jika memungkinkan terjadi kenaikan aktivitas dan direkomendasikan oleh tim ahli kami, maka evaluasi hingga peningkatan status harus segera dilakukan," kata Priatin.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyatakan bahwa data dari PVMBG tersebut menjadi fondasi utama dalam memperkuat sistem mitigasi bencana di daerah terdampak.
"Ini menjadi bahan awal bagi kami untuk disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya di lima kabupaten. Kata kuncinya bagaimana kita bisa menyelamatkan masyarakat sejak dini apabila terjadi erupsi," kata Bergas.
Bergas menekankan perlunya pembaruan rencana kontingensi tahun 2021 dengan menyesuaikan data kependudukan terbaru serta memperkuat peran desa tangguh bencana sebagai lini pertahanan pertama.
"Hingga saat ini status Gunung Slamet masih berada pada Level II atau Waspada, sehingga kesiapsiagaan seluruh pihak perlu terus ditingkatkan guna mengantisipasi kemungkinan terburuk," kata Bergas.
Data teknis dari PVMBG menunjukkan perbandingan aktivitas harian yang mencolok, di mana pada Senin, 20 April 2026, hanya terdapat 7 gempa embusan dan 17 gempa low frekuensi, namun melonjak menjadi 72 gempa hembusan dan 60 gempa low frekuensi pada Selasa, 21 April 2026.
Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, mengonfirmasi peningkatan kegempaan ini merupakan indikator penting dalam memantau dinamika magma.
"Peningkatan kegempaan ini menjadi indikator penting dalam memantau pergerakan magma di dalam gunung," ujar Sugeng Utomo.
Pihak pengelola wisata di lereng gunung terus mengingatkan pengunjung agar tetap berada di luar zona bahaya yang telah ditetapkan oleh otoritas berwenang.
"Secara umum kami mengimbau masyarakat agar selalu mematuhi batas aman 3 kilometer dari kawah puncak dan tetap waspada," tegas Sugeng.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan Sukma, mengungkapkan bahwa kenaikan suhu kawah hingga mencapai 478 derajat Celcius telah memicu kewaspadaan tinggi di tingkat pemerintah daerah.
"Kondisi ini menjadi perhatian serius. Meskipun untuk wilayah Banyumas bagian selatan saat ini masih dalam kategori relatif aman, kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan terus memantau indikator vulkanik lainnya," ujar Dwi.
Dwi menambahkan bahwa koordinasi lintas wilayah akan segera dilakukan untuk mensinkronkan langkah-langkah darurat antar-kabupaten yang berada di sekitar kaki Gunung Slamet.
"Fokus utama rakor adalah sinkronisasi langkah mitigasi dan penguatan jalur koordinasi darurat jika aktivitas gunung meningkat ke level yang lebih mengkhawatirkan," kata Dwi.
Kendati aktivitas vulkanik meningkat, aktivitas ekonomi dan pariwisata di kawasan Baturraden dipastikan masih beroperasi normal dengan pengawasan ketat dari petugas lapangan.
"Kegiatan wisata di kawasan Baturraden hingga saat ini masih dinilai aman karena jaraknya cukup jauh dari kawah puncak. Namun, kami minta masyarakat dan pengunjung tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dan tidak mudah termakan isu yang belum terverifikasi," kata Dwi.
Berdasarkan laporan portal magma.esdm.go.id, aktivitas kawah utama masih mengeluarkan asap putih dengan intensitas tebal setinggi 50 hingga 100 meter dari puncak gunung.
"Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara, timur, selatan dan barat," tulis laporan tersebut.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·