Dr. Firman Kurniawan S.
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital & Pendiri LITEROS.org.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Apa yang mendorong seseorang, terus memproduksi dan mendistribusikan informasi sebagai unggahan media sosial? Ini, walaupun unggahannya tak selalu ditanggapi pihak lain. Juga, apa yang menggerakkan seseorang menulis komentar dengan berbagai ekspresi--memuji, menghujat, mendukung, mencerca, bahkan berbaku bantah--pada unggahan orang, yang bahkan tak dikenalnya?
Apakah informasi telah bernilai setara dengan komoditas di era industri, sehingga produksi informasi sama pentingnya dengan produksi komoditas?
Salah satu penjelasannya, dapat menggunakan pendekatan pergeseran era: dari masyarakat industri ke masyarakat informasi. Daniel Bell, 1973, mungkin adalah salah satu ilmuwan yang paling bisa menguraikannya. Ilmuwan ini, lewat bukunya "The Coming of Post-Industrial Society" mengemukakan perbedaan modus antara masyarakat industri dengan masyarakat informasi.
Menurutnya, masyarakat industri sangat kental dicirikan oleh modus produksi barang. Produksi yang dalam prosesnya mengandalkan mesin-mesin milik kapitalis, dan tenaga kerja manusia sebagai pengendalinya. Sedangkan masyarakat pascaindustri --yang tak lain adalah masyarakat informasi-- dicirikan oleh dominasi sektor jasa, berfungsinya pengetahuan teoritis, maupun teknologi informasi. Modus produksi informasi, menjadi ciri utamanya.
Penjelasan soal masyarakat informasi ini, terdeskripsi lebih lengkap lewat buku Manuel Castells, 1996, berjudul: "The Rise of Network Society". Soal masifnya produksi informasi, pandangan Castells tak berbeda dari Daniel Bell. Modus produksi informasi, menjadi ciri transformasi ke masyarakat informasi.
Yang berbeda, Castells menyebut soal perubahan bentuk masyarakat. Perubahan yang dipengaruh kehadiran teknologi informasi, dan prosesnya telah berlangsung sejak tahun 1970-an. Waktu yang panjang itu mengubah bentuk masyarakat lewat relasi khasnya, berupa penggunaan mikroelektonik yang massif. Akibatnya masyarakat terhubung satu sama lain, sebagai network society. Masyarakat Jejaring.
Network society ini memiliki karakteristik yang khas: global, informasional, dan terjejaring. Wujudnya sebagai aktivitas yang tak lagi dibatasi ruang dan waktu, sehingga jangkauannya global; aktivitas utamanya bertumpu pada modus informasi; dan seluruhnya berlangsung dalam tatanan jejaring.
Ini kemudian meletakkan masyarakat dalam struktur sosial, ekonomi, politik, maupun budaya, yang ditentukan oleh logika jejaring global.
Logika jejaring ditandai oleh relasi inklusi dan eksklusi, dengan acuan pada nilai informasi yang dimiliki masyarakat. Ketika informasi yang dimiliki berguna, seseorang akan diinklusi ke dalam jejaring. Sedangkan jika yang sebaliknya, anggota masyarakat itu akan dieksklusi, keluar jejaring.
Dengan padanan relasi di media sosial, ketika informasi yang diproduksi dan didistribusi seseorang bernilai, akan banyak pengikutnya. Ada proses inklusi. Sebaliknya ketika tak bernilai, seseorang akan terabaikan, tanpa pengikut.
Ini keadaan yang disebut eksklusi. Persoalannya, jaminan untuk bertahan hidup tersedia di dalam jejaring. Maka seluruh upaya hidup dikerahkan dalam urusan informasi ini. Informasi jadi modus eksistensi, pada network society.
Hari ini keadaan masyarakat yang dikemukakan Manuel Castells dalam buku di atas, telah berlangsung 30 tahun. Buku ini merupakan salah satu dari triloginya, yang dapat disintesa sebagai "The Information Age". Adapun dua buku lainnya, masing-masing: "The Power of Identity" --terbit tahun 1997-- dan "End of Millennium", yang terbit tahun 1998. Pada ketiganya terunggah data yang kaya, berikut analisanya.
Modus kehidupan--inovasi, efisiensi, hingga keamanan sebagai motivasi-seluruhnya memusat pada informasi. Deskripsi masyarakat di abad 20, yang secara khas sangat intensif terpengaruh oleh teknologi informasi, tak ada yang meleset. Penjelasan tentang produksi dan distribusi informasi, yang berlipat ganda ribuan kali. Juga tendensi membangun identitas, pengalaman hingga kuasa, yang mengandalkan informasi dapat mengacu pada penjelasan-penjelasan trilogi Castells ini.
Kembali pada pertanyaan-pertanyaan pembuka di atas. Dengan menggunakan logika jejaring, setidaknya informasi punya 2 nilai: sosial dan ekonomi. Di era industri, informasi lebih bernilai sosial. Sedangkan di era informasi, makin bernilai ekonomi.
Namun demikian, nilai sosial informasi di network society juga bermakna makin kuat. Terbukti - sebagai nilai yang pertama-- saat media sosial digunakan untuk menghadirkan diri dengan identitas tertentu, dilakukan lewat produksi dan distribusi informasi sebagai unggahan. Identitas beserta atributnya, terbangun lewat unggahan media sosial. Mempertukarkan informasi bukan sekadar pemenuhan kebutuhan ritual, agar seseorang dianggap hidup. Lewat unggahan: identitas, kuasa, keahlian, preferensi, terbentuk. Kehadirannya sosial seseorang, nyata lewat unggahan media sosial.
Teori yang dikemukakan John Short, Ederyn Williams, dan Bruce Christie, 1976 -- "The Theory of Social Presence" -- mengonfirmasi perihal itu. Disebutkannya: tercapainya tujuan komunikasi yang termediasi, dipengaruhi oleh derajat "kehadiran sosial" seseorang. Sementara derajat kehadiran diri pada aktivitas simbolik, dipengaruhi oleh kemampuan memformulasi diri, sebagai informasi. Ringkasnya, kehadiran dipengaruhi oleh kemampuan seseorang mengubah dirinya menjadi informasi. Teori ini termuat dalam buku "The Social Psychology of Telecommunications".
Maka ketika hari ini komunikasi terutama termediasi komputer -computer mediated communication, termasuk yang menggunakan media sosial--Charlotte Gunawardena, 1995, menyempurnakan konsep kehadiran sosialnya. Seluruhnya termuat dalam artikelnya yang berjudul "Social Presence Theory and Implications for Interaction and Collaborative Learning in Computer Conferences". Ini kemudian dikenal sebagai Digital Presence.
Penyempurnaan yang dikemukakannya menekankan: kehadiran sosial seseorang di ruang digital, tak semata-mata ditentukan oleh aspek teknis alat komunikasi. Juga tak hanya bertumpu pada karakteristik medianya. Kehadiran di ruang digital, dipengaruhi oleh cara seseorang menghadirkan informasi tentang dirinya sendiri dalam interaksi. Artinya, ada pergeseran. Kehadiran yang semula ditentukan oleh media yang digunakan, bergeser menjadi persepsi yang dibangun oleh pengguna.
Maka seseorang tak ditentukan oleh medianya, melainkan kemampuannya sendiri hadir di hadapan orang lain. Tegasnya, "sejauh mana seseorang dianggap sebagai 'orang sungguhan' dalam komunikasi yang dimediasi". Di media sosial, ini berupa kemampuan mengubah diri secara utuh sebagai unggahan.
Maka dapat dipahami: produksi unggahan digital dalam berbagai bentuk--teks, audio, visual, video maupun gabungannya-- juga aneka komentar pada unggahan orang lain. Maupun berbagai interaksi --pemberian gift, like, unggah ulang-- adalah modus informasi untuk kehadiran sosial diri. Walaupun ruangnya tak nyata, mengubah diri menjadi informasi pada network society, merupakan modus kehadiran sosial hari ini.
Ken Buis, 2013, dalam "Informasionalism and You: Adapting to a Network Society based on Informationalism", mengonfirmasi seluruh gejala di atas. Disebutkannya: dalam komunitas digital yang terus berkembang, sebuah infosphere baru tercipta.
Terjadinya dalam ruang interaktif berbasis aliran informasi, yang dilakukan masyarakat jejaring saat membangun real virtuality --kemayaan yang nyata. Juga identitas dan eksistensi. Masyarakat memproduksi dan mengonsumsi informasi, serta berinteraksi dalam kemayaan yang nyata di infosphere. Implikasinya, terinklusi sebagai anggota dalam masyarakat itu. Modusnya dalam network society, adalah informasionalism.
Sedangkan nilai yang kedua, meletakkan informasi sebagai sumber ekonomi. Ini juga mengacu pada Manuel Castells, tentang produk informasional. Pada dasarnya, pada network society informasi merupakan bahan baku sekaligus hasil produksinya. Masuk sebagai informasi dan keluar sebagai informasi.
Keadaannya ini kian nyata, ketika yang dibicarakan produk kecerdasan berbasis artificial intelligence (AI). Big data dalam jumlah sangat besar diolah dan dianalisis untuk menghasilkan produk kecerdasan. Wujudnya berupa informasi, yang dapat digunakan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
Pada bentuk masyarakat ini, informasionalisme menjadi arah pengembangan teknologi maupun pengetahuan. Implikasinya, nilai produk lebih ditentukan oleh proses informasi yang dialaminya, dibanding karakteristik komoditasnya. Sebuah produk dengan harga bahan baku tertentu, namun dapat disusun narasi penyertanya --asal-usul bahan bakunya dari sumberdaya alam masa lampau; mesin produksi yang digunakan merupakan peninggalan peradaban sebelumnya; konsistensi etos pekerjanya terpelihara beratus-ratus tahun-- nilai jualnya, bukan tergantung dari proses produksinya. Melainkan berdasar nilai informasi, yang membentuk persepsi pada produk sebagai komoditas langka.
Dan ini diterima oleh jejaring. Semakin kompleks informasi membangun persepsi terhadap produk, semakin tinggi nilainya.
Hal ini pun terbukti, nilai ekonomi dihasilkan dari komodifikasi interaksi antar manusia maupun simbol budaynyaa. Seorang influencer berkat interaksi dengan para pengikutnya, dapat menikmati penghasilan yang besar. Juga dari tuturan influencer -sehingga sebuah produk dapat mengalami viralitas -- dapat dipengaruhi harga saham perusahaann: naik atau turun.
Pada masyarakat dengan modus informasi, nilai informasi dapat lebih bernilai dari hakikat realitas itu sendiri. Seluruhnya menjadikan informasi, sebagai alat maupun tujuan sosial dan ekonomi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·