Perjalanan Facebook dari Kampus Elit hingga Era Akuisisi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Segera setelah diluncurkan pada tahun 2004, tidak ada hal lain di internet yang lebih keren dibandingkan Facebook. Awalnya platform ini hanya tersedia untuk mahasiswa Harvard, lalu secara bertahap diperluas ke mahasiswa di kampus elit lainnya.

Pada saat akhirnya dibuka untuk publik tahun 2006, antusiasmenya sangat terasa, membuka jalan menuju penawaran saham perdana (IPO) yang fenomenal pada tahun 2012.

Sejak masa-masa keemasan itu, perjalanannya tak pernah sama lagi. Tentu saja, mereka berhasil mempertahankan pangsa pasar dengan serangkaian akuisisi terhadap calon-calon pesaing seperti Instagram dan WhatsApp. Namun belakangan disinyalir, semakin banyak yang meninggalkan platform Facebook.

Menjelang tahun 2026, setelah gagalnya transisi ke Metaverse , menggulir Facebook terasa seperti melihat linimasa tak berujung berisi konten AI, iklan, dan misinformasi murahan. Tak satu pun dari hal-hal tersebut tampaknya dibersihkan oleh pihak perusahaan.

Sebagian pihak pun mulai bertanya-tanya apakah perusahaan raksasa ini telah memasuki masa kemunduran panjang yang pada akhirnya pernah membunuh mantan bintang-bintang web lainnya seperti Yahoo dan AOL. Itulah argumen yang dikemukakan oleh jurnalis investigasi ternama Julia Angwin di New York Times.

Pendapatan Meta mulai memperlihatkan tekanan akibat meningkatnya ketidakpuasan konsumen selama bertahun-tahun dan pengeluaran yang sembrono. Laporan pendapatan terbaru mengungkapkan penurunan jumlah pengguna untuk pertama kali sejak mereka mulai melaporkan angka-angka tersebut. "Dan harga saham yang anjlok mengonfirmasi apa yang selama ini kita yakini dalam hati: Ini adalah perusahaan yang sedang memasuki era zombie," tulisnya.

Perusahaan-perusahaan seperti AOL dan Yahoo secara teknis masih ada di sekitar kita. Anda bisa mengunjungi situs web mereka. Mereka memiliki pelanggan. Mereka bahkan mungkin masih meraup untung, dengan cara memangkas jumlah karyawan dan memonetisasi sisa-sisa traffic terakhir mereka.

"Namun mereka, seperti kata anak-anak zaman sekarang, berada di tingkat sangat memalukan. Banyak remaja akan merasa lebih baik mati daripada ketahuan memiliki akun AOL, alamat email Yahoo atau profil Facebook," cetusnya, dikutip detikINET dari Futurism.

Jika argumen ini terjadi, Zuckerberg mungkin menderita. Dia pernah mencicipi masa-masa keemasan tepat setelah ia drop out dari Harvard dan pernah menjadi pemimpin dari sesuatu yang benar-benar keren.

Zuckderberg masih terus berusaha. Semenjak transisinya ke VR gagal, ia eperti membakar uang demi mencoba membangun dominasi di ranah AI yang sedang memanas tetapi sejauh ini, upayanya masih tertinggal jauh di belakang para pesaing. Namun demikian, Zuckerberg mungkin masih menyimpan beberapa kejutan.