Amerika Serikat Batalkan Pengerahan Ribuan Pasukan ke Polandia

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Pemerintah Amerika Serikat mendadak membatalkan rencana pengerahan sekitar 4.000 tentara dari Tim Tempur Brigade Lapis Baja ke-2 ke Polandia pada Minggu, 17 Mei 2026.

Langkah mendadak Washington tersebut memicu kebingungan di kalangan militer internal serta sekutu NATO karena dilakukan di tengah penataan ulang pasukan di Eropa dan ketegangan terkait perang Iran.

Kabar mengenai pembatalan rotasi pasukan ini pertama kali diungkap oleh Army Times yang mengutip NBC News, serta laporan dari Politico dan The Wall Street Journal, di mana sebagian personel dan peralatan militer dilaporkan sudah berada dalam perjalanan menuju Eropa saat keputusan diambil.

Pelaksana tugas kepala staf Angkatan Darat AS Christopher LaNeve menjelaskan bahwa Kepala Komando Eropa AS telah menerima instruksi mengenai pengurangan pasukan tersebut dan pihak mereka terus melakukan konsultasi intensif.

"I have intensively consulted with him regarding which troop units (will be reduced), and ... it makes the most sense for that brigade not to be deployed to the theater of operations," kata LaNeve, Pelaksana tugas kepala staf Angkatan Darat AS dalam sidang kongres pada Jumat, 15 Mei 2026, seperti dilansir ANTARA.

Pembatalan ini berkaitan dengan rencana Washington mengurangi sekitar 5.000 tentara dari Jerman yang ditargetkan selesai dalam enam hingga 12 bulan ke depan, di mana saat ini sekitar 35.000 tentara AS masih ditempatkan di sana.

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menyatakan telah menerima konfirmasi langsung mengenai kebijakan logistik ini dari pihak Washington dan memastikan kesiapan pertahanan domestik mereka tetap berjalan optimal.

"I received assurances that this decision is logistical and will not directly affect our defense capabilities or security," kata Tusk, Perdana Menteri Polandia dalam konferensi pers Jumat waktu setempat, dikutip dari CNBC Indonesia.

Tusk sebelumnya juga sempat secara terbuka mempertanyakan kesetiaan Washington terhadap perjanjian pertahanan bersama jika terjadi serangan dari pihak Rusia di masa depan melalui media Financial Times.

"biggest, most important question is if the United States is ready to be as loyal as it is described in our treaties" ujar Donald Tusk, Perdana Menteri Polandia.

Kekhawatiran tersebut muncul karena Trump mungkin tidak akan memenuhi janji NATO jika terjadi serangan mendadak di negara-negara Baltik, diperparah dengan terkurasnya stok senjata AS akibat perang di Iran yang menghambat pengiriman rudal pertahanan udara ke Eropa.

Langkah Pentagon ini memicu polemik internal karena Kongres AS mengaku tidak menerima pemberitahuan awal terkait pembatalan pengerahan pasukan yang memicu kritik atas koordinasi internal pemerintahan.

"As far as I know, we were not given notice about that," kata Jeanne Shaheen, Senator Partai Demokrat kepada awak media.

Kritik tajam juga datang dari Anggota DPR AS dari Partai Republik Don Bacon yang menyayangkan buruknya komunikasi dengan Warsawa karena koordinasi yang mendadak ini mengejutkan pihak pemerintah Polandia.

"They called me yesterday. They didn't know, they were surprised," kata Don Bacon, Anggota DPR AS dari Partai Republik yang mengecam koordinasi buruk tersebut.

Di sisi lain, mantan Komandan Angkatan Darat AS di Eropa Letjen Ben Hodges menilai pembatalan ini merugikan strategi jangka panjang NATO karena kehadiran militer AS di Eropa Timur sangat krusial untuk menghadapi potensi ancaman Rusia.

"These troops were supposed to be an important part of the deterrent effect against Russia. Now that important asset is being canceled," kata Ben Hodges, mantan Komandan Angkatan Darat AS di Eropa yang dikutip melalui laporan Politico.

Hodges juga memuji sikap loyalitas Warsawa yang selama ini selalu memenuhi target belanja pertahanan bersama aliansi Barat dan telah melakukan semua kewajiban sebagai sekutu dekat Washington.

"They did everything a good ally is supposed to do. But this is what happened," kata Ben Hodges, mantan Komandan Angkatan Darat AS di Eropa.

Mantan pejabat Finlandia Joel Linnainmaki turut menyoroti dampak geopolitik bagi negara-negara yang berbatasan langsung dengan Rusia di mana penurunan kehadiran militer AS diprediksi akan mengubah kalkulasi keamanan di kawasan perbatasan utara dan timur Eropa.

"For countries bordering Russia directly, this decision will change their security calculus," kata Joel Linnainmaki, Mantan pejabat Finlandia.

Guna meredakan ketegangan di jalur perdagangan internasional, perwakilan Jerman Johann Wadephul mendesak Iran melalui media sosial X untuk mematuhi tuntutan keamanan global dan menegaskan komitmen Jerman memastikan kebebasan navigasi tetap terbuka.

"As a close US ally, we share the same goal: Iran must fully and verifiably abandon nuclear weapons and immediately open the Strait of Hormuz as also demanded by (US) Secretary of State Marco Rubio," tulis Johann Wadephul, perwakilan Jerman.

Berdasarkan aturan National Defense Authorization Act (NDAA), jumlah total tentara AS di Eropa yang sempat mencapai 85.000 personel akhir tahun lalu dilarang turun di bawah 76.000 tanpa konsultasi resmi dengan sekutu NATO.