Pemerintah Amerika Serikat melalui Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) menjatuhkan sanksi terhadap belasan entitas yang terhubung dengan jaringan bisnis raja minyak Iran, Hossein Shamkhani, pada Rabu, 15 April 2026. Langkah ini diambil Departemen Keuangan AS untuk mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Teheran di tengah kebuntuan diplomatik.
Sanksi terbaru ini menyasar sejumlah individu, perusahaan, serta kapal yang dikendalikan oleh Shamkhani, putra dari mendiang pejabat keamanan senior Iran, Ali Shamkhani. Berdasarkan laporan Bloombergtechnoz, penetapan sanksi dilakukan setelah penyelidikan terhadap operasi pelayaran keluarga tersebut yang tetap mengangkut kargo melewati Selat Hormuz.
Jalur air strategis tersebut saat ini sedang mengalami penutupan efektif bagi sebagian besar lalu lintas komersial akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. AS sebelumnya telah menjatuhkan sanksi serupa kepada Shamkhani pada Juli tahun lalu, yang kemudian diikuti tindakan penyitaan sipil oleh Departemen Kehakiman.
Selain jaringan Shamkhani, Departemen Keuangan AS juga menargetkan warga negara Iran bernama Seyed Naiemaei Badroddin Moosavi beserta tiga perusahaan afiliasinya. Moosavi dituduh terlibat dalam skema pencucian uang dengan menjual minyak Iran demi mendapatkan emas dari Venezuela di bawah pemerintahan Nicolas Maduro.
"Departemen Keuangan bergerak agresif dengan ‘Economic Fury’ dengan menargetkan elite rezim seperti keluarga Shamkhani yang berusaha meraup keuntungan dengan mengorbankan rakyat Iran," kata Menteri Keuangan Scott Bessent dalam pernyataan resmi.
Bessent menegaskan bahwa lembaga keuangan harus waspada karena otoritas AS akan memanfaatkan semua wewenang, termasuk sanksi sekunder. Hal ini ditujukan kepada pihak-pihak yang terus memberikan dukungan terhadap aktivitas yang dianggap sebagai terorisme oleh pihak Teheran.
Keputusan sanksi ini mengakhiri masa jeda singkat yang sebelumnya sempat mengizinkan armada bayangan milik Shamkhani tetap mengalirkan minyak. Pengecualian sementara tersebut sebelumnya dikeluarkan bulan lalu untuk meredam lonjakan harga minyak mentah global dengan membiarkan kapal Iran membongkar kargo di laut.
Pemberlakuan kembali tekanan ekonomi ini muncul saat Washington dan Teheran sedang mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata selama dua minggu guna menegosiasikan perdamaian. Namun, saat ini kedua negara masih saling memblokir pergerakan di Selat Hormuz melalui blokade laut dan penutupan jalur air.
Departemen Keuangan AS menyatakan akan membiarkan pengecualian sementara atas pembelian minyak mentah Iran berakhir pada akhir pekan ini. Kebijakan serupa sebelumnya juga telah diterapkan terhadap pembelian minyak mentah asal Rusia yang terkena sanksi.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·