Amerika Serikat Blokade Selat Hormuz Kapal Iran Dipaksa Berbalik

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang berafiliasi dengan Iran di Selat Hormuz pada Kamis (16/4/2026). Langkah militer ini menyebabkan penurunan volume lalu lintas pelayaran secara signifikan di jalur energi paling vital di dunia tersebut.

Data pelayaran menunjukkan hanya delapan kapal yang melintasi selat pada hari pertama blokade, termasuk tiga tanker terkait Iran. Angka ini turun drastis dibandingkan rata-rata 130 penyeberangan harian sebelum ketegangan meningkat pada akhir Februari 2026, sebagaimana dilansir dari Money.

Komando Pusat AS melaporkan bahwa dalam 24 jam pertama, setidaknya enam kapal mematuhi instruksi pasukan AS untuk berbalik arah kembali ke pelabuhan Iran. Militer AS menegaskan tidak ada kapal yang berhasil melewati area blokade secara bebas selama periode tersebut.

"Amerika Serikat tidak perlu memblokir semua jenis kapal atau memasuki Selat Hormuz. Mereka dapat melakukan blokade secara intermiten," kata Fabrizio Coticchia, Profesor ilmu politik dari University of Genoa. Ia menambahkan bahwa kapal-kapal tidak akan diserang melainkan dialihkan rutenya.

Meskipun terdapat pembatasan ketat, tanker Peace Gulf berbendera Panama dan kapal Rich Starry tercatat tetap melintas dengan muatan produk kimia. Kondisi ini memaksa industri pelayaran menghadapi lonjakan premi asuransi risiko perang yang mencapai ratusan ribu dollar AS per minggu.

Pemerintah China melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Guo Jiakun, mengkritik keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai langkah berbahaya yang memperburuk ketegangan. China memiliki kepentingan besar karena sekitar 157,7 juta barrel minyak mentah Iran di laut saat ini ditujukan ke pasar mereka.

Berbeda dengan China yang memiliki cadangan strategis untuk 120 hari, India dinilai lebih rentan karena hanya memiliki cadangan minyak untuk kurang dari 60 hari. India sangat bergantung pada impor LPG dari kawasan Timur Tengah yang memasok 66 persen kebutuhan domestik mereka.

Analis dari Eurasia Group memperingatkan bahwa intersepsi langsung terhadap kapal-kapal China oleh militer AS dapat memicu insiden diplomatik besar. Saat ini, pelaku pasar global masih terus memantau potensi eskalasi di tengah ketidakpastian jalur distribusi energi internasional tersebut.