Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan penghentian izin umum yang selama ini memberikan kelonggaran penjualan sementara bagi minyak mentah asal Rusia dan Iran pada Rabu (16/4/2026).
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyampaikan ketegasan tersebut dalam konferensi pers di Gedung Putih guna merespons kondisi pasar energi global yang sedang bergejolak. Dilansir dari Bloombergtechnoz, kebijakan ini diambil saat arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz mengalami kelumpuhan hampir total.
"Kami tidak akan memperpanjang izin umum untuk minyak Rusia, dan kami tidak akan memperpanjang izin umum untuk minyak Iran," ujar Scott Bessent, Menteri Keuangan Amerika Serikat. Keputusan ini berdampak langsung pada pasokan energi dunia karena Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi seperlima pasokan minyak bumi global.
Data pasar menunjukkan harga minyak mentah dunia telah melonjak lebih dari 30% sejak konflik bersenjata pecah. Pada perdagangan Rabu sore, kontrak berjangka berada di level US$95 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pengetatan pasokan yang dilakukan oleh Washington.
Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, izin khusus untuk pasokan minyak Rusia akan berakhir pada Sabtu mendatang. Sementara itu, izin untuk penjualan minyak Iran dijadwalkan habis pada Minggu setelah sebelumnya sempat mendapatkan pengecualian sementara di bawah pemerintahan Trump.
Sejumlah negara di kawasan Asia, seperti India dan Filipina, dilaporkan terus melakukan upaya lobi agar Gedung Putih bersedia memberikan perpanjangan izin. Negara-negara tersebut sangat bergantung pada impor minyak mentah untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik mereka di tengah krisis energi.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, telah berkomunikasi langsung dengan Presiden Donald Trump melalui sambungan telepon pada Selasa. Modi menekankan pentingnya keamanan jalur perairan internasional agar tetap terbuka bagi lalu lintas logistik dan energi global.
Meskipun kebijakan umum telah diputuskan berakhir, pengamat menilai masih terdapat celah bagi pemberian pembebasan sanksi secara terbatas. Pengecualian ini kemungkinan hanya akan menyasar perusahaan tertentu atau dirancang khusus untuk membantu negara mitra yang berada dalam kondisi darurat energi.
Kondisi keamanan di Selat Hormuz kian mengkhawatirkan sejak operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dimulai pada Februari lalu. Blokade terhadap jalur air strategis tersebut kini menjadi ancaman nyata yang dapat menarik lebih banyak pasokan minyak keluar dari pasar internasional.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·