Amerika Serikat Tolak Proposal Rusia Terkait Pengambilalihan Uranium Iran

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan menolak tawaran diplomatik dari Moskow untuk mengambil alih kepemilikan cadangan uranium yang diperkaya milik Iran pada Kamis (16/4/2026). Proposal tersebut diajukan sebagai langkah untuk meredakan ketegangan militer yang terus berlangsung di kawasan tersebut.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menjelaskan bahwa Rusia bersedia menampung uranium milik Iran di wilayahnya untuk memfasilitasi solusi damai. Namun, dilansir dari Detikcom, pihak Washington secara resmi menolak gagasan yang sebelumnya telah diajukan langsung oleh Presiden Vladimir Putin tersebut.

"Rusia siap menerima uranium yang diperkaya milik Iran di wilayahnya. Ini akan menjadi keputusan yang baik. Tetapi sayangnya pihak Amerika menolak proposal ini," kata Dmitry Peskov, Juru bicara Kremlin.

Peskov menegaskan bahwa Presiden Putin masih membuka ruang untuk mempertimbangkan kembali proposal tersebut jika ada permintaan dari negara-negara yang terlibat. Laporan intelijen menunjukkan Rusia pertama kali mengajukan tawaran pemindahan stok uranium ini pada Juni tahun lalu.

Berdasarkan data yang dihimpun, stok tersebut mencakup sekitar 450 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan mencapai 60 persen. Material ini berada di situs nuklir Iran yang menjadi sasaran serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel dalam operasi militer tahun lalu.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa Iran harus menyerahkan stok uranium tersebut secara sukarela atau menghadapi tindakan paksa dari militer AS. Washington bersikeras bahwa penguasaan uranium oleh Teheran merupakan ancaman keamanan yang mendasari agresi militer mereka.

Peskov membantah tuduhan AS mengenai pengembangan senjata nuklir oleh Iran dengan merujuk pada laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Menurutnya, pengawas nuklir PBB tersebut tidak pernah menemukan bukti kuat bahwa Teheran sedang membangun persenjataan nuklir.

Terkait hubungan militer dengan Iran, Kremlin menyatakan tidak memberikan bantuan intelijen militer untuk menghadapi pasukan AS. Peskov menegaskan bahwa Rusia tidak ikut campur dalam pertempuran tersebut karena menganggapnya bukan perang milik Moskow.

Meskipun demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut adanya dukungan militer dari Moskow dalam berbagai sektor. Sementara itu, utusan khusus AS Steve Witkoff mengklaim telah menerima jaminan pribadi dari Putin bahwa Rusia tidak berbagi informasi intelijen dengan pihak Teheran.