Laporan analisis terbaru dari bank investasi asal Amerika Serikat, Goldman Sachs, yang dirilis pada Selasa (14/4/2026), memperingatkan bahwa pekerja yang digantikan oleh kecerdasan buatan (AI) berisiko menghadapi penurunan gaji riil selama sepuluh tahun ke depan.
Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa fenomena perpindahan pekerjaan akibat teknologi tidak hanya memicu pengangguran sementara, tetapi juga menekan tingkat kesejahteraan finansial jangka panjang bagi para buruh yang terdampak langsung oleh otomatisasi.
Sebagaimana dilansir dari Tekno, data pasar tenaga kerja selama 40 tahun terakhir menunjukkan pekerja yang kehilangan posisi akibat teknologi mengalami penurunan pendapatan rata-rata sebesar 3 persen saat kembali mendapatkan pekerjaan baru.
Dalam kurun waktu satu dekade setelah pemutusan hubungan kerja, pertumbuhan pendapatan riil kelompok ini tercatat 10 poin persentase lebih rendah dibandingkan mereka yang mempertahankan posisi stabil di perusahaan mereka.
Analisis terhadap 20.000 pekerja sejak tahun 1980 tersebut juga menyoroti bahwa dampak finansial akan jauh lebih buruk jika proses penggantian tenaga kerja oleh AI terjadi bersamaan dengan periode resesi ekonomi global.
"Analisis kami menunjukkan bahwa, mirip dengan gelombang perubahan teknologi sebelumnya, penggantian oleh AI dapat menimbulkan biaya jangka panjang bagi pekerja yang terdampak, memperburuk hasil pasar tenaga kerja selama beberapa tahun," tulis para analis Goldman Sachs dalam laporan tersebut.
Selain masalah upah, para peneliti menemukan bahwa korban disrupsi teknologi membutuhkan waktu satu bulan lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan baru dibandingkan pekerja yang keluar karena alasan lain di sektor yang stabil.
Penurunan kualitas pekerjaan juga menjadi ancaman, di mana pekerja cenderung beralih ke peran yang membutuhkan keahlian analitis dan interpersonal yang lebih rendah karena nilai keterampilan lama mereka telah diambil alih oleh mesin.
Di Amerika Serikat saja, AI diprediksi mampu menggantikan sekitar 7 persen dari total tenaga kerja dalam sepuluh tahun ke depan, dengan estimasi pengurangan pertumbuhan pekerjaan baru mencapai 16.000 posisi per bulan selama setahun terakhir.
Namun, Goldman Sachs mencatat bahwa pelatihan ulang atau reskilling dapat memitigasi dampak tersebut, dengan potensi peningkatan upah riil kumulatif sebesar 2 persen bagi mereka yang memperbarui keahlian mereka pasca-disrupsi.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·