Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto menyoroti potensi penurunan daya beli masyarakat kelas menengah menyusul adanya penyesuaian harga beberapa jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku efektif pada Sabtu (18/4).
Kenaikan harga tersebut mencakup Pertamax Turbo yang naik menjadi Rp 19.400 per liter dari semula Rp 13.100, sementara Dexlite melonjak dari Rp 14.200 ke angka Rp 23.600 per liter, dan Pertamina Dex menjadi Rp 23.900 dari Rp 14.500 per liter sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Firnando mengungkapkan keprihatinannya terhadap beban pengeluaran rumah tangga yang diprediksi akan meningkat signifikan akibat kebijakan ini. Ia menilai kondisi ekonomi kelas menengah terancam tertekan oleh perubahan struktur harga energi tersebut.
Risiko terjadinya fenomena turun kelas energi juga menjadi perhatian utama, di mana konsumen BBM nonsubsidi dikhawatirkan beralih menggunakan BBM bersubsidi. Politisi Partai Golkar ini menekankan perlunya langkah antisipasi agar penyaluran subsidi tetap tepat sasaran.
Pemerintah didesak untuk memperkuat pengawasan distribusi dan mengendalikan sektor logistik guna meredam efek domino kenaikan harga bahan bakar. Penegasan ini disampaikan Firnando dalam keterangan tertulis pada Minggu (19/4/2026).
"Pemerintah tetap harus waspada terhadap dampak kenaikan BBM nonsubsidi, khususnya terhadap kelas menengah. Pengawasan subsidi harus diperketat, distribusi dijaga, serta stabilisasi harga pangan dan kontrol tarif logistik harus menjadi prioritas," tegas Firnando.
Pemberian berbagai bentuk insentif bagi sektor transportasi logistik diusulkan guna mencegah lonjakan biaya distribusi barang. Upaya ini dianggap krusial untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di tingkat konsumen.
Selain kebijakan tarif, intervensi distribusi melalui operasi pasar dipandang perlu diintensifkan secara berkala. Langkah ini bertujuan untuk menjamin keterjangkauan harga komoditas utama masyarakat di tengah gejolak harga energi nonsubsidi.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·