Tokoh senior Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Andi Jamaro Dulung, melontarkan kritik terkait minimnya keterlibatan ulama dari luar Pulau Jawa dalam jajaran kepengurusan pusat saat menghadiri Halalbihalal PB IKA PMII pada Selasa (28/4/2026). Dilansir dari Cahaya, Andi menilai struktur organisasi saat ini cenderung mengalami sentralisasi yang mengabaikan peran kiai daerah.
Ketimpangan representasi ini dianggap sebagai pergeseran arah gerak organisasi selama tiga periode terakhir, mulai dari Muktamar Jombang hingga Muktamar Lampung. Kepengurusan PBNU dinilai lebih banyak didominasi oleh figur berbasis di Jakarta atau Pulau Jawa dengan latar belakang profesional dan akademisi.
Kondisi tersebut berdampak pada semakin jarangnya kiai pengasuh pesantren dari luar Jawa yang mendapatkan posisi strategis di struktur PBNU. Padahal, para ulama daerah tersebut merupakan ujung tombak yang berhadapan langsung dengan persoalan umat serta menjadi benteng pertahanan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di pelosok Nusantara.
Andi Jamaro membandingkan formasi saat ini dengan masa khidmat 2004-2009 di bawah kepemimpinan KH Ahmad Hasyim Muzadi dan KH MA Sahal Mahfudh. Pada periode tersebut, keterlibatan perwakilan luar Jawa terlihat nyata dengan kehadiran Profesor Nasaruddin Umar sebagai Katib Aam dan KH Muhyidin Arubusman asal NTT sebagai Sekretaris Jenderal.
Minimnya keterlibatan tokoh daerah memicu kesan bahwa Pengurus Wilayah (PWNU) dan Pengurus Cabang (PCNU) di luar Jawa hanya dianggap sebagai penyumbang suara dalam Muktamar. Hal ini mengakibatkan kebijakan PBNU terkadang terasa jauh dari realitas akar rumput dan kebutuhan lokal di Sumatra, Sulawesi, hingga Papua.
"hanya" kata Andi Jamaro Dulung, Tokoh Senior PBNU.
Penegasan mengenai pentingnya mekanisme AD/ART organisasi juga disampaikan untuk mendorong penyegaran struktur. Desentralisasi kepengurusan secara kultural dan struktural dipandang perlu agar PBNU tetap menjadi organisasi yang digerakkan oleh kiai pesantren sesuai cita-cita para pendirinya.
"desentralisasi kepengurusan" ujar Andi Jamaro Dulung, Tokoh Senior PBNU.
Langkah menempatkan ulama luar Jawa dalam jajaran Syuriyah maupun Tanfidziyah bukan sekadar masalah keadilan geografis. Upaya ini merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlangsungan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang manfaatnya dapat dirasakan hingga ke desa-desa terpencil di seluruh Indonesia.
"jam'iyyah mubarakah" pungkas Andi Jamaro Dulung, Tokoh Senior PBNU.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·