APEC soroti ancaman rantai pasokan energi akibat konflik Timur Tengah

Sedang Trending 43 menit yang lalu

Suzhou, China (ANTARA) - Menteri perdagangan dari 21 negara di kawasan Asia Pasifik menggarisbawahi pentingnya menjaga rantai pasokan dengan tangguh terhadap energi dan produk esensial lainnya di tengah konflik di Timur Tengah.

Hal itu tertuang dalam pernyataan bersama, Sabtu, setelah pertemuan tingkat menteri forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) selama dua hari di Suzhou, China.

"Memastikan perdagangan terus berjalan dan infrastruktur penting terus mendukung kelangsungan dan integritas rantai pasokan secara global," menurut pernyataan itu.

Pernyataan itu muncul di tengah penutupan efektif Selat Hormuz, jalur air utama untuk transportasi energi, yang telah memicu kekhawatiran pasokan dan lonjakan harga minyak mentah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Menteri perdagangan APEC juga mengakui potensi kecerdasan buatan (AI) dalam mengubah wajah perdagangan internasional serta berkomitmen memperluas perdagangan regional yang berkaitan dengan AI.

Dalam mewujudkan manfaat AI bagi semua pihak, para menteri urusan perdagangan itu juga menyerukan peningkatan keamanan, aksesibilitas, keandalan, dan kredibilitas.

Tahun ini, China menjabat sebagai ketua APEC dan hasil pertemuan menteri perdagangan tersebut diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pemimpin negara anggota APEC saat bertemu dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) yang akan diselenggarakan di Shenzhen, China, pada November mendatang.

Menteri Perdagangan China Wang Wentao mengatakan dalam konferensi pers bahwa pertemuan di Suzhou itu menyoroti soal kesediaan negara-negara di kawasan Asia Pasifik untuk bekerja sama di tengah tantangan yang dihadapi dunia, seperti meningkatnya ketegangan geopolitik dan unilateralisme.

"Hal ini sepenuhnya menunjukkan regionalisme terbuka dan multilateralisme sejati mendapat dukungan luas, serta bahwa sikap saling melengkapi dan pembangunan bersama sejalan dengan kepentingan mendasar semua perekonomian," kata Wentao.

Dia menambahkan pertemuan tersebut berfokus pada pemanfaatan teknologi terdepan, termasuk AI.

"Merupakan harapan bersama dari semua negara untuk semakin memperkuat perkembangan ekonomi regional melalui inovasi," tambah Wentao.

Sebagai bagian dari rangkaian acara sidang tingkat menteri APEC, China juga menjadi tuan rumah dialog pertama antara para anggota Perjanjian Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) dan perjanjian perdagangan bebas Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), dua kerangka kerja berskala besar, menurut Lin Feng, seorang pejabat senior bidang perdagangan China.

Lin menyebut 18 anggota dari kedua perjanjian perdagangan tersebut dan Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn turut serta dalam dialog tersebut dan membahas langkah-langkah untuk memajukan integrasi ekonomi regional.

China merupakan salah satu dari 15 negara anggota RCEP, yang terdiri atas 10 negara anggota ASEAN, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Namun, China tidak termasuk dalam TPP, yang secara resmi dikenal sebagai Perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik yang Komprehensif dan Progresif.

RCEP mulai berlaku pada Januari 2022, tetapi tanpa standar setara dengan TPP, yang permohonan keanggotaannya diajukan China pada 2021. Anggota TPP antara lain Kanada, Australia, Jepang, Meksiko, dan Singapura.

Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa tidak ikut serta dalam dialog RCEP-TPP, kata seorang pejabat senior Jepang, karena Tokyo tidak mengakui acara tersebut didasarkan pada konsensus antara negara-negara anggota kedua kerangka kerja tersebut.

Sumber: Kyodo

Baca juga: Indonesia dukung agenda China dorong transformasi digital di APEC 2026

Baca juga: Menteri perdagangan APEC bertemu di China, bahas proteksionisme AS

Baca juga: Indonesia nilai pertemuan Xi-Trump bawa suasana positif dalam APEC

Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.