Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendesak pemerintah memberikan respons serius atas anjloknya nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS pada Rabu (12/05/2026). Dilansir dari Bloomberg Technoz, pelemahan ini telah mencapai titik terendah sepanjang masa dan memicu kekhawatiran besar bagi dunia usaha nasional.
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menyatakan bahwa situasi ini merupakan perhatian utama para pengusaha saat ini. Penurunan nilai mata uang garuda tersebut dinilai memerlukan langkah koordinasi yang cepat dan terukur dari pihak otoritas terkait.
"Menyentuh level psikologis baru di Rp17.500 per dolar AS tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha, dan perlu direspons secara serius dan terkoordinasi karena secara paralel terus menciptakan level baru all-time low (ATL/terendah sepanjang masa)," tutur Shinta Kamdani, Ketua Umum Apindo.
Pelemahan ini dipengaruhi oleh dinamika global seperti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan eskalasi konflik geopolitik yang memicu realokasi modal ke aset dolar. Kondisi tersebut menyebabkan tekanan nilai tukar serta aliran modal keluar di berbagai negara berkembang.
"Kondisi ini berdampak pada hampir seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui tekanan nilai tukar dan meningkatnya capital outflow (aliran modal asing keluar). Dalam konteks ini juga perlu dilihat bahwa tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda," ungkap Shinta Kamdani.
Sektor industri manufaktur menjadi pihak yang paling terdampak mengingat tingginya ketergantungan pada bahan baku luar negeri. Shinta mencatat bahwa sekitar 70 persen bahan baku manufaktur saat ini masih didatangkan melalui impor.
"Dalam konteks ini, beban impor bahan baku memang terdampak secara relatif cepat, meskipun tingkat pass-through ke harga akhir bervariasi tergantung sektor dan kondisi permintaan," kata Shinta Kamdani.
Kondisi pasar Non-Deliverable Forward (NDF) pada 13 Mei 2026 menunjukkan posisi rupiah masih tertahan di angka Rp17.519 per dolar AS. Sementara itu, nilai rupiah offshore terpantau kembali melemah sebesar 0,01 persen ke posisi Rp17.521 per dolar AS di tengah lonjakan harga minyak mentah Brent yang mencapai US$107,17 per barel.
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·