Pemerintah Arab Saudi mendesak peningkatan pengawasan keamanan di kawasan Teluk, khususnya Selat Hormuz, dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Senin (27/4/2026). Langkah ini diambil guna melindungi jalur perdagangan strategis yang krusial bagi stabilitas ekonomi dan rantai pasok energi dunia.
Perwakilan Tetap Arab Saudi untuk PBB, Abdulaziz Alwasil, dalam laporan yang dilansir dari Cahaya, memberikan penekanan khusus pada pentingnya pemantauan intensif di wilayah perairan tersebut. Ia menilai segala bentuk gangguan di Selat Hormuz akan memberikan dampak domino terhadap pasar internasional.
Alwasil menguraikan bahwa kebebasan navigasi di jalur tersebut merupakan fondasi bagi keamanan ekonomi global. Penegasan ini muncul di tengah kekhawatiran atas potensi hambatan distribusi komoditas energi dari Timur Tengah ke pasar global.
Menurut Alwasil, menjaga keamanan navigasi di wilayah perairan tersebut bukan hanya beban satu negara, melainkan kewajiban kolektif seluruh pihak. Ia menuntut adanya kepatuhan yang lebih kuat terhadap regulasi hukum internasional yang berlaku saat ini.
Alwasil juga menyerukan penguatan sinergi antarnegara untuk memastikan kepatuhan penuh terhadap Resolusi Dewan Keamanan 2817 tahun 2026. Hal tersebut dianggap krusial guna menjamin kelancaran arus transportasi laut di kawasan Teluk.
Selain masalah maritim, Kerajaan Arab Saudi menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif internasional dan regional yang berupaya meredam ketegangan konflik. Salah satu yang menjadi sorotan adalah upaya mediasi yang dipimpin oleh Pakistan.
Alwasil menutup pernyataannya dengan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil sikap tegas terhadap serangan yang dilakukan oleh Iran. Arab Saudi mendorong adanya respons global yang lebih nyata guna menghadapi ancaman keamanan yang terus berkembang di kawasan tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·