AS Akan Blokade Selat Hormuz, Ancam Ganggu Pasokan Energi Dunia

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Amerika Serikat berencana melakukan blokade penuh di Selat Hormuz mulai Senin, yang dapat mengganggu pasokan energi global. Keputusan ini diambil setelah kegagalan perundingan damai di Islamabad, dan berpotensi memperparah krisis di kawasan penghasil energi penting dunia.

Jalur air sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan dunia luar itu telah menjadi titik konflik sejak AS dan Israel memulai serangan terhadap Iran enam minggu lalu. Jumlah kapal yang melintas telah menyusut. Blokade laut AS akan mengurangi angka tersebut hingga nol.

Blokade penuh berpotensi menghentikan aliran minyak dan mengancam perekonomian di luar Timur Tengah. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran merespons seruan blokade dengan mengatakan bahwa setiap kapal militer yang mendekati selat akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah terbukti efektif sebagai senjata asimetris, menimbulkan kerugian finansial yang signifikan bagi Washington. Tujuan utama blokade AS adalah memutus aliran minyak Iran, yang merupakan sumber pendapatan vital bagi rezim tersebut.

Tindakan AS juga dapat menggagalkan gencatan senjata yang disepakati pekan lalu. Beberapa ahli menolak potensi penutupan selat karena Iran tidak ingin membahayakan ekspornya. Namun demikian, Teheran telah menunjukkan kemampuannya untuk menghambat negara lain. “Eskalasi baru ini lebih mungkin memicu eskalasi lebih lanjut daripada mendorong rekonsiliasi,” kata John Bradford, mantan perwira angkatan laut AS, dilansir dari Bloombergtechnoz.

Blokade tersebut akan sangat berdampak pada Iran, yang sangat bergantung pada ekspor minyaknya. Harga jual minyak yang lebih tinggi sangat penting bagi Iran, dan keuntungan yang diperoleh sejak perang dimulai mungkin akan berakhir.

Negara-negara Asia akan menanggung beban terberat krisis energi, dan pembatasan lebih lanjut terhadap lalu lintas di Selat Hormuz akan memperburuk kondisi kawasan tersebut. Beberapa negara yang sebelumnya mencari perjanjian bilateral dengan Iran kini mungkin enggan berselisih dengan AS. Jorge Montepeque, direktur pelaksana di Onyx Capital Group, mengatakan, “Mereka begitu fokus pada Iran, sehingga mereka kehilangan pandangan tentang apa yang mereka sebabkan bagi dunia.”

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa konsumen negara-negara Barat akan merasakan dampak kenaikan harga bahan bakar. “Dengan apa yang disebut ‘blokade’, sebentar lagi Anda akan merindukan harga bensin US$4–US$5,” ujar Ghalibaf.