AS dan Iran Pertimbangkan Perpanjangan Gencatan Senjata di Selat Hormuz

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Pemerintah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan perpanjangan masa gencatan senjata selama dua pekan pada Kamis (16/4/2026) demi memberikan ruang bagi kelanjutan perundingan damai. Langkah ini diambil di tengah upaya meredakan ketegangan yang telah melumpuhkan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.

Harga minyak mentah global merespons sinyal de-eskalasi ini dengan bertahan di level tinggi namun cenderung stabil. Dilansir dari Money melalui data Bloomberg, harga minyak jenis Brent berada di bawah 95 dollar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tertahan pada kisaran 91 dollar AS per barel.

Kondisi di Selat Hormuz saat ini masih mengalami kelumpuhan total akibat blokade timbal balik yang telah berlangsung selama tujuh pekan. Amerika Serikat menerapkan pembatasan lalu lintas kapal Iran, yang dibalas oleh Teheran dengan menutup jalur bagi sebagian besar kapal internasional.

Komandan markas militer gabungan Iran, Ali Abdollahi, memperingatkan bahwa blokade yang terus berlanjut dapat dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata. Ia menegaskan Iran tidak akan mengizinkan aktivitas ekspor maupun impor di kawasan Teluk Persia hingga Laut Merah jika tekanan ekonomi tersebut tidak dicabut.

Konflik berkepanjangan ini berdampak signifikan pada stabilitas ekonomi dunia melalui guncangan pasokan energi dan peningkatan inflasi global. Menteri Keuangan Selandia Baru, Nicola Willis, menyatakan bahwa situasi perang tersebut telah secara nyata membuat ekonomi dunia menjadi lebih miskin akibat ketidakpastian yang muncul.

"Pasar minyak belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil. Saat ini justru semakin banyak yang memperkirakan konflik mereda," kata Warren Patterson, Head of Commodities Strategy ING. Namun, ia mengingatkan bahwa potensi kenaikan harga tetap terbuka karena posisi negosiasi kedua negara masih terpaut jauh.

Data dari Commonwealth Bank of Australia menunjukkan sekitar 3,8 juta barel minyak dan produk turunannya kini terancam gagal melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, stok minyak mentah di Amerika Serikat dilaporkan menurun di tengah tingginya permintaan dari pasar Asia menjelang musim panas.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa penurunan harga bahan bakar di pasar domestik sangat bergantung pada keberhasilan negosiasi damai. Saat ini, harga rata-rata bensin di AS mencapai 4,11 dollar AS per galon, melonjak dari level sebelum konflik yang berada di bawah 3 dollar AS.

Para mediator internasional kini sedang menyusun draf pembicaraan teknis di Pakistan untuk membahas isu krusial pembukaan kembali jalur pelayaran dan program nuklir Iran. Hasil dari kesepakatan damai ini diprediksi akan menjadi faktor penentu utama arah pasar energi global dalam jangka pendek.