Purbaya Optimistis Ekonomi RI Tumbuh 5,5 Persen di Tengah Tekanan Global

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan optimisme terhadap prospek ekonomi nasional dengan target pertumbuhan di atas 5,5 persen untuk tahun 2026 pada Minggu (19/4/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, pemerintah meyakini ketahanan fiskal Indonesia tetap kuat meski menghadapi sorotan lembaga keuangan internasional serta ketidakpastian harga minyak dunia.

Keyakinan ini didasarkan pada capaian pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 sebesar 5,39 persen dan pertumbuhan tahunan mencapai 5,11 persen. Angka tersebut menempatkan Indonesia di jajaran tertinggi kelompok G20, didorong oleh akselerasi kebijakan yang mulai menunjukkan hasil signifikan pada awal tahun 2026.

"Jadi reformasi yang dilakukan oleh Bapak Presiden [Prabowo] membuat kita masuk ke tahun 2026 dengan keadaan yang baik, sehingga ketika ada shock dari harga minyak dunia yang tinggi, ekonomi kita masih bisa bertahan. Jadi itu pesan utama yang kita berikan ke investor maupun ke IMF dan World Bank," kata Purbaya dalam keterangannya, mengutip dari Metro TV, Minggu (19/4/2026).

Purbaya menceritakan respons positif dari perwakilan lembaga internasional dalam rangkaian pertemuan di Washington dan New York, Amerika Serikat. Strategi pemerintah dinilai telah memberikan keyakinan baru bagi para pelaku pasar global.

"Dan mereka setuju dengan apa yang kita lakukan dan boleh dibilang sedikit kagum, dia nggak bilang kagum sih, tapi mukanya sih kelihatan sih, senang sekali dengan berita yang kita bawa," ujar Purbaya.

Di sisi lain, World Bank melalui laporan East Asia & Pacific Economic Update April 2026 memproyeksikan perlambatan ekonomi kawasan menjadi 4,2 persen. Khusus Indonesia, lembaga tersebut memprediksi pertumbuhan hanya mencapai 4,7 persen, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen.

Merespons proyeksi tersebut, Purbaya menilai kalkulasi World Bank terlalu terburu-buru dan menyatakan kesiapan pemerintah untuk membuktikan performa ekonomi yang lebih baik. Ia menyebut telah menyampaikan ketidaksetujuannya secara langsung kepada penyusun laporan tersebut.

"I saya akan buktikan Anda salah, saya bilang. Karena saya akan menciptakan ekonomi yang lebih tinggi dari yang Anda prediksikan. Dia ketawa dan dia ikut mendoakan, kira-kira begitu," kata Purbaya.

Pemerintah berencana fokus pada penguatan permintaan domestik sebagai bantalan utama dari perlambatan global yang diprediksi tidak akan bertahan sepanjang tahun. Purbaya merujuk pada pengalaman krisis tahun 2009 sebagai bukti kemampuan Indonesia bertahan di zona positif.

"Karena sekarang walaupun banyak ketidakpastian global, tapi yang globalnya enggak resesi, masih tumbuh walaupun lebih pelan ya. Kalau kita lihat pengalaman tahun 2009, pada waktu seluruh negara di dunia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi, kita masih bisa tumbuh 4,6% kalau kita jaga permintaan dalam negerinya," ujar Purbaya.

Menurut Purbaya, menjaga sirkulasi konsumsi dalam negeri sangat krusial agar target pertumbuhan tetap stabil di angka 4,6 persen hingga di atas 5 persen. Skema ini dipersiapkan sebagai langkah antisipasi jika ekonomi dunia mengalami kontraksi lebih lanjut.

"Jadi biasanya dalam keadaan sekarang ketika semua negara di dunia mengalami kontraksi ekonomi, harusnya kita tumbuhnya 4,6% kalau kita jaga permintaan dalam negeri," ujar Purbaya.

Status investment grade dari S\&P Global Ratings yang tetap berada di level BBB juga dipandang sebagai modal kepercayaan diri. Meskipun S\&P memperingatkan risiko konflik Timur Tengah terhadap defisit transaksi berjalan, pemerintah memastikan rasio defisit akan tetap terjaga di bawah ambang batas.

"Ternyata setelah kita diskusi dengan tokoh-tokoh, pimpinan-pimpinan bukan pimpinan ya, orang-orang penting di S\&P yang langsung menangani peringkat kita, kita bisa meyakinkan bahwa langkah yang kita jalankan adalah baik, kita tidak akan menembus level 3% dari PDB untuk rasio defisit kita," jelas Purbaya.

Kementerian Keuangan saat ini tengah berupaya melakukan efisiensi anggaran guna mendorong pertumbuhan yang lebih optimal dengan sumber daya yang ada. Delegasi S\&P dijadwalkan akan berkunjung ke Jakarta pada Juni mendatang untuk meninjau implementasi kebijakan secara langsung.

"Saya akan menghilangkan kendala-kendala di perekonomian dan memastikan juga belanja pemerintah, dibelanjakan tepat waktu, tepat sasaran, dan sedikit yang bocor. Atau kalau bisa nggak ada yang bocor. Jadi [S\&P] akan datang ke Jakarta untuk diskusi dan membuktikan realnya," ujar Purbaya.