AS Izinkan Supertanker Pengangkut 2 Juta Barel Minyak Irak Lanjutkan Pelayaran

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Sebuah supertanker tujuan Vietnam yang mengangkut 2 juta barel minyak mentah Irak kini kembali melanjutkan pelayarannya. Kapal tersebut sempat dihentikan oleh pasukan Amerika Serikat (AS) beberapa hari lalu setelah melintasi Selat Hormuz.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, kapal bernama Agios Fanourios I telah memperoleh izin dari otoritas AS untuk melanjutkan perjalanan. Informasi ini disampaikan oleh perusahaan pengelolanya yang berbasis di Athena, Eastern Mediterranean Maritime.

Hingga Minggu dini hari, kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar atau very large crude carrier (VLCC) yang bermuatan penuh itu telah melewati garis batas tempat AS memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran. Komando Pusat AS di Florida tidak menjawab panggilan telepon maupun segera merespons permintaan komentar melalui email.

VLCC tersebut diketahui berlayar keluar dari Teluk Persia sepekan lalu, melewati Selat Hormuz yang diblokade Iran, dan berupaya memasuki Laut Arab. Namun, ketika mendekati garis blokade angkatan laut AS, kapal tanker itu sempat berbalik arah menuju Teluk Oman berdasarkan data pelacakan kapal. Komando Pusat AS saat itu menyatakan kapal diputarbalikkan untuk menegakkan blokade.

Pembeli muatan tersebut, PetroVietnam Oil Corp., yang merupakan unit perdagangan perusahaan energi nasional Vietnam, pekan lalu mengirim surat permohonan kepada AS agar kapal tanker itu dibebaskan.

"Muatan ini sangat penting bagi Kilang Nghi Son, Republik Sosialis Vietnam, dan rakyat Vietnam," demikian isi surat yang dilihat Bloomberg News.

"Penundaan lebih lanjut berisiko menghentikan operasi kilang, dengan dampak berantai terhadap jutaan konsumen, bisnis, layanan publik, dan industry di Vietnam."

Perjalanan kapal tersebut terjadi setelah pertemuan puncak dua hari antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Dalam pertemuan itu, keduanya sepakat bahwa selat tersebut harus tetap terbuka, meski belum terlihat kemajuan nyata menuju tujuan tersebut.

Lalu lintas pelayaran di jalur perairan itu saat ini masih jauh di bawah level sebelum perang. Walaupun demikian, ada sedikit peningkatan dalam beberapa hari terakhir seiring sejumlah kapal tanker minyak mentah keluar dari Teluk Persia.