Amerika Serikat (AS) memberikan sanksi kepada salah satu kilang minyak milik perusahaan swasta China, Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co. Perusahaan ini juga merupakan pelanggan terbesar Iran.
Mengutip Bloomberg, Sabtu (25/4), pemberian sanksi tersebut kembali meningkatkan ketegangan AS-Iran. Selain itu juga dinilai menambah kekhawatiran Beijing.
Kantor Pengendalian Aset Asing Departemen Keuangan AS (Department of the Treasury's Office of Foreign Assets Control/OFAC) mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka telah menjatuhkan hukuman pada Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co, yang mengoperasikan pemrosesan minyak modern di provinsi Liaoning, China.
"Hengli adalah salah satu pelanggan terbesar Iran untuk minyak mentah dan produk minyak bumi lainnya" dan telah melakukan pembelian senilai miliaran dolar," kata OFAC.
OFAC juga memberikan sanksi kepada sekitar 40 perusahaan pelayaran dan kapal tanker karena mengangkut minyak Iran.
Kebijakan AS terhadap minyak Iran sempat berubah-ubah sejak delapan minggu terakhir. Pada awalnya, Washington memberikan kelonggaran dengan mengizinkan sejumlah negara tetap membeli minyak Iran yang sudah berada di laut, sebagai upaya meredam lonjakan harga energi global.
Namun, dalam perkembangan terbaru, AS mulai memperketat kebijakannya. Salah satunya melalui langkah pemutusan jalur pendanaan utama Iran, termasuk opsi blokade angkatan laut untuk membatasi distribusi minyaknya.
Sanksi terbaru yang diumumkan pada Jumat lalu memperluas tekanan tersebut dengan menyasar pembeli utama minyak Iran sekaligus sumber pendapatan negara itu. Langkah ini dilakukan di tengah upaya diplomasi AS yang mengirim tim ke Pakistan untuk membuka peluang pembicaraan dengan Iran, meskipun Teheran menegaskan belum ada rencana pertemuan.
Di sisi lain, kebijakan ini juga berpotensi menambah ketegangan dengan China, terutama menjelang rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bulan depan.
Bagi China, pasokan energi merupakan isu strategis. Selama dua bulan terakhir, negara tersebut relatif mampu meredam dampak krisis energi global, salah satunya dengan mengandalkan pasokan minyak dari Iran. China bahkan disebut meminta kilang swasta, termasuk Hengli Petrochemical, untuk tetap menjaga tingkat produksi.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·