ASEAN perkuat kerja sama penanganan dampak bencana di kawasan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) memperkuat kerja sama dalam penanganan kerugian dan kerusakan, seiring negara-negara anggota berupaya mengatasi dampak bencana terkait iklim yang semakin meningkat terhadap masyarakat, ekonomi, dan infrastruktur di seluruh Asia Tenggara.

Pada sesi perdana Pekan Iklim ASEAN 2026, para pejabat menekankan bahwa di luar mitigasi dan adaptasi, negara-negara juga harus mempersiapkan diri menghadapi dampak yang tidak dapat sepenuhnya dihindari, seperti kerusakan rumah, hilangnya mata pencaharian, dan gangguan layanan penting akibat peristiwa cuaca ekstrem.

Sekretaris Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam (DENR) Filipina, Juan Miguel T. Cuna, menggarisbawahi pentingnya koordinasi di tingkat regional.

“Apa yang dilakukan ASEAN terkait hal ini adalah mendorong koordinasi dan kolaborasi yang lebih kuat di antara negara-negara anggota ASEAN, dan juga mendorong berbagi sumber daya dan keahlian teknis,” kata Sekretaris Cuna dalam laman resmi Keketuaan Filipina untuk ASEAN 2026, Rabu.

Ia menambahkan bahwa ASEAN juga berupaya untuk lebih baik menilai kesiapan negara-negara anggota dan mengidentifikasi kesenjangan dalam menanggapi dampak iklim.

“Ada studi tentang kerugian dan kerusakan… yang bertujuan untuk menilai kesiapan berbagai negara anggota ASEAN dalam menghadapi perubahan iklim, dan dalam prosesnya mengidentifikasi kebutuhan spesifik mereka sehingga dapat dipenuhi,” katanya.

Secara praktis, penguatan kerja sama dalam hal kerugian dan kerusakan dapat membantu meningkatkan respons negara-negara setelah bencana—memungkinkan mobilisasi bantuan yang lebih cepat setelah topan, meningkatkan akses ke pembiayaan untuk membangun kembali rumah dan infrastruktur yang rusak, dan mendukung program pemulihan untuk sektor-sektor yang terkena dampak seperti pertanian dan perikanan.

Upaya regional juga berfokus pada peningkatan sistem manajemen risiko iklim, peningkatan berbagi data, dan pembangunan kapasitas teknis sehingga pemerintah dapat merencanakan dan menanggapi kerugian terkait iklim dengan lebih baik.

Ini termasuk mengembangkan mekanisme yang lebih jelas untuk mengakses dana iklim internasional dan menyelaraskan pendekatan nasional dan regional terhadap respons dan pemulihan bencana.

Melalui Pekan Iklim ASEAN, negara-negara anggota terlibat dalam diskusi teknis, pertukaran pengetahuan, dan kegiatan peningkatan kapasitas yang bertujuan untuk memperkuat sistem ini dan memastikan bahwa mekanisme dukungan tersedia ketika dampak iklim terjadi.

Seiring Filipina memimpin ASEAN pada 2026, memajukan kerja sama dalam hal kerugian dan kerusakan tetap menjadi prioritas utama guna mendukung kawasan yang lebih terkoordinasi, responsif, dan tangguh dalam menghadapi peningkatan risiko iklim.

Baca juga: RI–Malaysia bahas optimalisasi bantuan bencana di kawasan ASEAN

Baca juga: Kesepakatan penanggulangan bencana EU-ASEAN prioritaskan tiga upaya

Baca juga: ASEAN-Uni Eropa sepakati penguatan kapasitas penanggulangan bencana

Pewarta: Yashinta Difa
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.