Australia memperpanjang periode pelonggaran standar kualitas bahan bakar untuk memperkuat pasokan. Kebijakan pelonggaran ini diperpanjang hingga September 2026.
Dikutip dari Reuters pada Minggu (19/4), pelonggaran yang diumumkan pada Maret itu meningkatkan batas kandungan sulfur dalam bahan bakar menjadi 50 part per million (ppm) dari batas normal 10 ppm.
“Saya telah memutuskan untuk memperpanjang periode kadar sulfur yang lebih tinggi untuk bensin di Australia,” kata Menteri Energi Chris Bowen.
Langkah ini dilakukan sebagai dampak perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) terhadap pasokan bahan bakar Australia. Saat ini, Australia sudah memasuki minggu ke delapan dalam kekurangan pasokan di sejumlah wilayah karena perang.
Selain itu, sempat terjadi kebakaran yang terjadi pada Viva Energy di negara bagian Victoria. Meski demikian, produksi solar, bahan bakar jet, dan bensin di kilang minyak Australia tak mengalami perubahan.
“Kilang Geelong Refinery beroperasi pada 80 persen kapasitas untuk solar dan bahan bakar jet, serta 60 persen untuk bensin dan itu masih berlaku,” ujarnya.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese juga memastikan bahwa kebakaran tersebut tidak akan memicu pembatasan bahan bakar. Albanese juga sudah mengamankan kesepakatan dengan perusahaan energi milik Malaysia yakni Petronas untuk memasok kelebihan bahan bakar ke Australia.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·