Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pejabat Bank Dunia menyampaikan permohonan maaf setelah lembaga tersebut menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026. Hal ini disampaikan Purbaya usai melakukan pertemuan langsung di Washington DC, Amerika Serikat, pada Jumat (17/4/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah Bank Dunia merilis laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 pada Rabu (8/4/2026). Dalam laporan itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi melambat menjadi 4,7 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,8 persen, sebagaimana dilansir dari Money.
Purbaya menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan pihak yang menyusun outlook ekonomi tersebut di Amerika Serikat.
“Saya ketemu yang memprediksi itu. Dia minta maaf, katanya terlalu cepat menurunkannya,” ujar Purbaya, Menteri Keuangan.
Pejabat tersebut mengaku bahwa publikasi data dilakukan tanpa melalui prosedur pelaporan yang semestinya kepada pimpinan di internal lembaga.
"Dia bilang itu di-publish tanpa laporan ke bosnya dahulu, bosnya dia yang di Indonesia," kata Purbaya, Menteri Keuangan.
Menanggapi situasi ini, pemerintah memilih untuk tidak mendesak adanya revisi angka proyeksi dalam waktu dekat. Purbaya menegaskan komitmen pemerintah untuk membuktikan kekuatan fundamental ekonomi nasional melalui hasil nyata.
“Saya bilang tidak usah diubah sekarang, tapi ke depan saya akan buktikan mereka salah,” katanya, Menteri Keuangan.
Keyakinan pemerintah didasarkan pada ketahanan ekonomi domestik yang dinilai mampu meredam gejolak pasar global saat ini.
“Fondasi ekonomi kita bagus dan kita akan tumbuh lebih cepat dari 4,8 persen. Walaupun ada gejolak global, kita bisa meredam, jadi ekonomi domestik tetap tumbuh baik,” ujarnya, Menteri Keuangan.
Kesalahan administratif dalam proses publikasi laporan tersebut kembali ditegaskan oleh Menkeu berdasarkan pengakuan pihak penyusun.
“Dia juga bilang itu dipublikasikan tanpa laporan ke atasannya. Jadi ada kekeliruan,” kata Purbaya, Menteri Keuangan.
Meskipun terdapat revisi penurunan, angka 4,7 persen milik Indonesia masih melampaui rata-rata pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diproyeksikan hanya sebesar 4,2 persen. Kawasan ini mencakup persaingan ekonomi antara China, Malaysia, Vietnam, hingga Thailand.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, mengidentifikasi tiga tantangan utama yang membayangi kawasan. Faktor tersebut meliputi eskalasi konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga energi, kebijakan perdagangan Amerika Serikat, serta perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·