Bank Dunia dalam laporan Macro Poverty Outlook pada April 2025 secara resmi mengklasifikasikan Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah atas di tengah tren penyusutan populasi kelas menengah akibat guncangan ekonomi global.
Status tersebut didasarkan pada ambang batas pengeluaran sebesar USD 6,85 atau sekitar Rp 113.777 per orang per hari. Meski status meningkat, daya beli kelompok ini dilaporkan mengalami kontraksi signifikan sejak berakhirnya pandemi COVID-19.
Dilansir dari Money, kelompok kelas menengah dan calon kelas menengah mencakup 66,35 persen dari total populasi Indonesia pada 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok ini menyumbang hingga 81,49 persen dari total konsumsi rumah tangga nasional.
Data BPS menunjukkan bahwa garis kemiskinan per kapita Indonesia per September 2025 berada pada angka Rp 595.242 per bulan. Berdasarkan standar tersebut, pengeluaran kelas menengah kini berada dalam rentang Rp 2,08 juta hingga Rp 10,12 juta per bulan.
Namun, Bank Dunia mencatat adanya fenomena penurunan jumlah penduduk kelas menengah dari sekitar 60 juta orang pada 2018 menjadi 48 juta orang pada 2024. Penurunan ini dipicu oleh peningkatan informalitas pekerjaan dan inflasi yang menekan pendapatan riil masyarakat.
Kondisi serupa terjadi di Amerika Serikat dan Tiongkok, di mana krisis sektor properti dan ketimpangan pendapatan menggerus populasi strata menengah. Di Amerika, pendapatan rata-rata kelas menengah menyusut dari 61 persen pada 1971 menjadi 51 persen pada 2023.
"Kelompok kelas menengah adalah kelompok masyarakat yang tidak lagi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar, tetapi masih rentan terperosok jika sewaktu-waktu terjadi turbulensi ekonomi," tulis laporan Bank Dunia yang dikutip Money.
Pemerintah kini menaruh perhatian pada risiko perpindahan kelas menengah ke kategori rentan miskin. Hal ini dikhawatirkan dapat melemahkan basis pajak nasional dan meningkatkan ketergantungan masyarakat pada dukungan fiskal negara di masa depan.
Bank Dunia menekankan pentingnya penciptaan lapangan kerja sektor formal yang berkelanjutan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Investasi pada infrastruktur yang tangguh dan peningkatan kualitas tenaga kerja menjadi prioritas utama guna menahan laju penurunan populasi kelas menengah.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·