Bank Dunia Siapkan Dana 100 Miliar Dollar AS Respons Krisis Timur Tengah

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Bank Dunia mengalokasikan bantuan dana hingga 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.713 triliun untuk menangani dampak ekonomi akibat konflik di Timur Tengah pada Rabu (15/4/2026). Mobilisasi dana besar-besaran ini dijadwalkan berlangsung selama 15 bulan ke depan dengan prioritas utama bantuan bagi negara-negara berkembang.

Presiden Bank Dunia Ajay Banga menjelaskan bahwa jumlah dukungan finansial ini lebih besar dibandingkan dana penanganan pandemi Covid-19 yang mencapai 70 miliar dollar AS. Alokasi awal sebesar 20 miliar dollar AS hingga 25 miliar dollar AS akan segera dikucurkan melalui skema respons krisis yang memungkinkan penarikan dana lebih cepat bagi negara terdampak.

Dilansir dari Money, skema khusus tersebut memfasilitasi negara anggota untuk mengambil hingga 10 persen dana lebih awal dari program pembangunan yang telah disetujui sebelumnya. Selain itu, Bank Dunia akan melakukan pengalihan program yang sudah berjalan senilai 30 miliar dollar AS hingga 40 miliar dollar AS dalam enam bulan mendatang.

Ajay Banga memberikan peringatan bahwa kebutuhan total pendanaan berisiko membengkak jika durasi konflik terus memanjang. Pihaknya berencana mengoptimalkan kapasitas neraca dan cadangan internal guna memperkuat struktur pembiayaan darurat tersebut.

"Saya mencoba menciptakan perangkat yang memiliki kapasitas respons bertingkat, tergantung pada bagaimana ini berlanjut, setidaknya untuk dapat memberikan daya dorong yang memadai untuk melakukan sesuatu," ujar Banga, Presiden Bank Dunia.

Tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi di pasar global menjadi perhatian utama dalam kebijakan ini. International Monetary Fund (IMF) turut merespons situasi dengan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia karena gangguan pada rantai pasok dan stabilitas harga komoditas global.

Analisis IMF menunjukkan bahwa pertumbuhan global sebenarnya berpotensi mencapai 3,4 persen atau naik 0,1 poin persentase jika tidak terhambat oleh konflik bersenjata tersebut. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyatakan risiko ekonomi akan semakin tinggi apabila peperangan tidak mereda hingga memasuki musim panas 2026.

IMF kini tengah melakukan pemetaan kebutuhan pembiayaan bersama negara-negara yang mengalami gangguan distribusi energi paling parah. Ajay Banga dan Georgieva secara bersamaan mengimbau setiap pemerintah untuk menerapkan subsidi energi secara terbatas dan terarah demi menghindari pemburukan laju inflasi.

Banga juga memproyeksikan bahwa stabilitas pasar energi dunia tidak akan pulih secara instan meskipun konflik berakhir dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas perbaikan sistem distribusi global yang membutuhkan waktu pemulihan cukup lama tanpa adanya jaminan keamanan infrastruktur yang berkelanjutan.