Bank Indonesia Diprediksi Kerek Suku Bunga Jadi 5 Persen

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Mayoritas lembaga keuangan dan analis memproyeksikan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada 19-20 Mei 2026. Langkah pengetatan moneter ini dinilai mendesak untuk mengintervensi pelemahan nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi tajam hingga menembus level psikologis baru.

Berdasarkan jajak pendapat CNBC Indonesia terhadap 15 institusi, sebanyak sembilan lembaga memperkirakan kenaikan BI Rate ke level 5,00 persen, sementara enam lainnya memprediksi suku bunga bertahan di posisi 4,75 persen. Sejalan dengan itu, survei Bloomberg dan laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia juga menunjukkan ekspektasi serupa akibat tingginya tekanan eksternal.

Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh ketidakpastian pasar keuangan global serta peningkatan tensi geopolitik akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak WTI ke kisaran US$106 per barel dan melonjaknya yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 4,6 persen, sehingga memicu aliran modal keluar dari pasar domestik.

Data Refinitiv menunjukkan nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,51 persen ke level Rp17.730 per dolar AS pada Selasa, 19 Mei 2026 pukul 13.18 WIB. LPEM FEB UI mencatat mata uang Indonesia telah terdepresiasi sebesar 5,50 persen secara year to date, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di antara negara berkembang.

Analis NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama menilai tindakan agresif dari bank sentral sangat diperlukan karena instrumen non-suku bunga sudah tidak lagi optimal menahan kejatuhan mata uang domestik.

"Naik 25 bps. Rupiah sudah lemah, membentuk all time high baru setiap hari," ujar Ezaridho Ibnutama, Analis NH Korindo Sekuritas.

Ezaridho memperkirakan bahwa tekanan depresiasi ini berpotensi memicu berlanjutnya aksi jual aset domestik oleh investor.

"Foreign and domestic capital outflow bisa diasumsikan lanjut," lanjut Ezaridho Ibnutama, Analis NH Korindo Sekuritas.

Kekhawatiran pengetatan moneter global juga disampaikan oleh ekonom perbankan nasional yang melihat adanya kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

"Sejujurnya kami melihat ada urgensi bagi BI untuk menaikkan suku bunga bulan ini," kata Hosianna Situmorang, Ekonom Bank Danamon Indonesia.

Kenaikan BI Rate ke depan diproyeksikan akan langsung memengaruhi tingkat keuntungan sejumlah instrumen investasi di pasar keuangan dalam negeri.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,00% pada Mei 2026. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang masih berlanjut terhadap rupiah akibat ketidakpastian pasar keuangan global dan dampak meningkatnya tensi geopolitik, yakni perang Iran, Israel, dan Amerika Serikat," ujar Juniman, Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia.

Di sisi lain, pergerakan tajam kurs dolar AS ini berisiko meningkatkan persepsi risiko investasi terhadap aset-aset finansial di dalam negeri.

“Market cenderung merespons pergerakan rupiah yang cenderung terdepresiasi tajam hingga menembus kisaran Rp17.668-Rp17.681 per dollar AS. Hal ini menjadi salah satu rekor terendah yang memicu kekhawatiran atas meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar aset Indonesia,” ujar Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Nafan menambahkan bahwa spekulasi pasar terkait respons kebijakan moneter Bank Indonesia pada pertengahan Mei ini sangat kuat.

“Melemahnya rupiah ini menyebabkan terjadinya spekulasi kuat di pasar bahwa BI berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5 persen dalam RDG BI yang dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Mei 2026,” paparnya Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Langkah intervensi melalui suku bunga acuan dipercaya dapat memberikan sentimen positif jangka pendek untuk menstabilkan pasar modal syariah maupun konvensional.

“Hal ini dilakukan demi mengintervensi pelemahan rupiah, dan bila direspons positif bisa menahan kejatuhan indeks lebih dalam,” beber Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Meskipun cadangan devisa telah terkuras lebih dari US$10 miliar dalam empat bulan terakhir untuk intervensi valas, penguatan kebijakan lewat suku bunga dinilai menjadi opsi paling realistis saat ini.

“Untuk memperluas langkah stabilisasi nilai tukar rupiah, Bank Indonesia perlu menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke 5,00% di Rapat Dewan Gubernur mendatang,” ujar Jahen Fachrul Rezki, Wakil Direktur LPEM FEB UI.

Kondisi inflasi umum Indonesia sebenarnya melandai ke angka 2,42 persen secara tahunan pada April 2026 akibat kebijakan pemerintah menahan harga BBM bersubsidi.

“Di saat berbagai negara lain mengalami lonjakan inflasi yang drastis, Indonesia masih diuntungkan dari keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi,” katanya Jahen Fachrul Rezki, Wakil Direktur LPEM FEB UI.

Kenaikan suku bunga acuan berpotensi memicu penyesuaian imbal hasil pada instrumen SBN ritel seperti Sukuk Tabungan seri ST016 yang menggunakan skema mengambang dengan batas minimal. Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan hasil keputusan akhir terkait BI Rate ini pada hari Rabu, 20 Mei 2026.