Bank Indonesia Perkuat Bauran Kebijakan Redam Volatilitas Nilai Tukar

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Bank Indonesia memperkuat bauran kebijakan moneter melalui intervensi pasar simultan guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah dan ketidakpastian global pada Jumat (17/4/2026). Langkah pre-emptive ini diambil untuk memberikan kepastian bagi dunia usaha dari tekanan volatilitas eksternal yang bergerak cepat.

Strategi stabilitas tersebut dilakukan melalui intervensi pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF), pasar domestik melalui spot dan DNDF, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Dilansir dari Money, upaya meredam gejolak jangka pendek ini bertujuan melindungi daya beli masyarakat dari potensi transmisi inflasi akibat kenaikan harga energi dan pangan dunia.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi dunia saat ini berada dalam situasi yang tidak biasa sehingga memerlukan respons kebijakan yang terukur. Penegasan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Ketahanan Ekonomi Indonesia Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global di Jakarta.

"Bank Indonesia menegaskan bahwa kondisi global saat ini tergolong unusual, sehingga membutuhkan respons kebijakan yang konsisten, pre-emptive, dan terukur," tegas Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Destry menambahkan bahwa fokus otoritas moneter bukan hanya pada angka kurs harian, melainkan pada pengendalian volatilitas agar tidak mengganggu perencanaan investasi dan impor bahan baku. Selain itu, tata kelola transaksi valuta asing diperketat melalui kewajiban dokumen underlying untuk transaksi di atas 50 ribu Dolar AS guna menjaga kualitas pasar.

Ketahanan eksternal Indonesia didukung oleh posisi cadangan devisa yang tercatat sebesar 148,3 miliar Dolar AS pada akhir Maret 2026. Meskipun angka ini memberikan ruang gerak luas, otoritas tetap menekankan pentingnya menjaga fundamental ekonomi seperti pengendalian defisit transaksi berjalan.

Selain intervensi pasar, penguatan struktur ekonomi dilakukan melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Hingga akhir 2025, nilai transaksi menggunakan mata uang lokal tersebut telah mencapai angka 25,72 miliar Dolar AS.