Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21-22 April 2026. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah serta memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen untuk tahun 2026 dan 2027.
Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, otoritas moneter juga menetapkan arah kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran yang akomodatif demi mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Strategi ini mencakup intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menjelaskan bahwa bauran kebijakan tersebut didukung oleh langkah-langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi domestik.
"Arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dalam mempertahankan stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan juga didukung dengan langkah-langkah kebijakan" kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.
BI berkomitmen mengelola likuiditas di pasar uang dengan menjaga pertumbuhan uang primer di atas 10 persen. Selain itu, transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) terus dipublikasikan untuk mendorong pembiayaan pada sektor prioritas melalui Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI).
Terkait digitalisasi, Bank Indonesia menjadwalkan peluncuran QRIS antarnegara Indonesia-Tiongkok serta Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) pada akhir April ini. Di pasar valuta asing, BI juga memperluas penggunaan mata uang lokal melalui instrumen Offshore Chinese Renminbi (CNH).
Perry Warjiyo menegaskan bahwa sinergi lintas lembaga terus diperkuat untuk menghadapi ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
“Sinergi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga dipererat untuk turut menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pembiayaan bagi program Asta Cita Pemerintah” ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Bank Indonesia saat ini tetap mempertahankan Rasio Countercyclical Capital Buffer (CCyB) sebesar 0 persen dan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) pada rentang 84-94 persen. Kerja sama internasional di bidang kebanksentralan juga terus diperluas untuk memfasilitasi promosi investasi dan perdagangan sektor prioritas.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·