Bank Mandiri Salurkan Kredit Rp1.530 Triliun Kuartal I 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan penyaluran kredit sebesar Rp1.530 triliun pada kuartal I-2026 yang diumumkan dalam konferensi pers virtual pada Selasa (21/4/2026). Realisasi tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 17,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Money.

Pencapaian pertumbuhan kredit emiten berkode saham BMRI ini diklaim berada di atas rata-rata industri perbankan nasional. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Februari 2026, rata-rata pertumbuhan kredit industri tercatat hanya sebesar 9,37 persen.

"Hingga Maret 2026, total kredit Bank Mandiri secara bank only mampu tumbuh sebesar 17,4 persen, hampir dua kali lipat terhadap pertumbuhan dari industri," ujar Riduan, Direktur Utama Bank Mandiri.

Kenaikan volume kredit tersebut dibarengi dengan terjaganya kualitas aset perusahaan melalui rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di level 0,98 persen. Angka ini mengalami perbaikan sebesar 3 basis poin jika dibandingkan dengan posisi tahun lalu.

"Rasio NPL Bank Mandiri berada jauh di bawah rata-rata industri perbankan, hal ini menegaskan komitmen Bank Mandiri dalam mengelola risiko serta mengedepankan kualitas pertumbuhan yang sehat," kata Riduan.

Perusahaan juga memperkuat pencadangan dengan NPL coverage ratio yang menyentuh level 245 persen. Dari sisi penghimpunan dana, Bank Mandiri mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.675 triliun atau tumbuh 21,1 persen, dengan kontribusi dana murah (CASA) mencapai Rp1.201 triliun.

Laporan keuangan kuartal I-2026 menunjukkan pendapatan bunga bersih mencapai Rp21 triliun dan pendapatan non-bunga sebesar Rp8,24 triliun. Kondisi ini mendorong laba bersih perusahaan tumbuh 16,6 persen menjadi Rp15,4 triliun secara tahunan.

"Kinerja Bank Mandiri bukan hanya mencerminkan pertumbuhan bisnis semata, tetapi merupakan hasil nyata dari fokus sinergi yang melibatkan berbagai unsur perekonomian nasional," kata Riduan.

Aspek efisiensi operasional turut membaik dengan penurunan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) ke level 58 persen. Sementara itu, tingkat pengembalian ekuitas (ROE) terjaga di level 22,1 persen dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 19,7 persen.