Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut stabilitas harga beras nasional saat ini ditopang ketersediaan cadangan beras pemerintah (CBP), yang dikelola Perum Bulog, mencapai sekitar lima juta ton.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah terus menjaga keseimbangan harga agar menguntungkan petani, sekaligus tetap terjangkau bagi masyarakat.
"Pemerintah itu harus adil pada semua pihak. Ini petani, ini pedagang beras, (hingga) konsumen. Petani 115 juta orang seluruh Indonesia yang berproduksi padi," kata Amran sebagaimana keterangannya di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, instrumen harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram (kg) diterapkan untuk melindungi harga gabah di tingkat petani agar tidak jatuh saat panen raya.
Sementara itu, harga eceran tertinggi (HET) digunakan sebagai acuan pengendalian harga di tingkat konsumen guna menjaga keterjangkauan pangan.
Amran menegaskan petani harus memperoleh keuntungan yang layak agar tetap berproduksi dan menjaga ketahanan pangan nasional.
"Kalau petani rugi, dia tidak akan produksi padi. Tidak produksi padi, impor. Impor berarti kita pro pada negara lain," ujarnya.
Adapun rata-rata harga beras dalam pantauan Bapanas hingga 10 Mei, harga beras premium memang telah melampaui HET, terutama di Indonesia timur.
Akan tetapi, rata-rata harga beras premium secara nasional berada di Rp15.758 per kilogram (kg) atau sedikit menurun dibandingkan seminggu sebelumnya yang berada di Rp15.801 per kg.
Sementara, untuk rata-rata harga beras medium terpantau masih terjaga dalam rentang HET.
Secara nasional, rata-rata harga beras medium tercatat berada di Rp13.444 per kg. Jika dibandingkan seminggu sebelumnya, naik tipis 0,06 persen dari Rp13.436 per kg.
Kemudian, harga gabah kering panen tingkat panen yang disebut-sebut faktor pemicu fluktuasi harga beras, Bapanas mencatat rata-rata secara nasional berada di harga Rp6.925 per kg.
Sulawesi Tenggara dilaporkan menjadi daerah dengan harga paling rendah di Rp6.500 per kg dan daerah dengan harga paling tinggi adalah Sumatera Barat dengan Rp7.700 per kg.
Sementara itu, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa memastikan pihaknya akan melakukan optimalisasi stok CBP.
Penguatan distribusi dilakukan melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) beras guna memberi tekanan di hilir disertai pula bantuan pangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah.
Menurutnya, stok CBP lebih dari 5 juta ton menjadi bantalan untuk menjaga kesinambungan distribusi dan mengendalikan gejolak harga hingga semester dua.
Selain itu, pemerintah masih memiliki ruang intervensi yang luas melalui penyaluran CBP, SPHP, maupun bantuan pangan.
Bapanas memastikan dalam menjaga keseimbangan antara harga di tingkat petani dan konsumen dilakukan dengan memastikan harga gabah tetap memberikan keuntungan yang layak. Namun harga beras di pasar tetap terjangkau.
"Dengan melihat kondisi stok beras nasional saat ini yang masih relatif aman, pelaksanaan operasi pasar tetap dilakukan secara terukur dan selektif," ujar Ketut.
Indeks Perkembangan Harga (IPH) pangan pokok strategis diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) per minggu pertama Mei 2026 mengalami pergerakan positif.
Direktur Statistik Harga BPS Sarpono di Jakarta, Senin (11/5/2026) mengatakan jumlah daerah dengan kenaikan IPH lebih rendah dibandingkan jumlah daerah dengan penurunan IPH.
Hal itu pertanda stabilisasi pangan yang dilaksanakan pemerintah manjur.
"Untuk IPH minggu pertama Mei tahun 2026 tercatat sebanyak 15 provinsi, ini mengalami kenaikan IPH dan 23 provinsi mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya," kata Sarpono.
Secara nasional, kata Sarpono, jumlah kabupaten kota yang mengalami kenaikan IPH pada minggu pertama Mei tahun 2026 juga lebih sedikit dibandingkan kabupaten kota yang mengalami penurunan.
Sementara, khusus komoditas beras, dalam paparan BPS melaporkan jumlah daerah dengan kenaikan IPH beras mulai terjadi penurunan dari 116 kabupaten/kota per akhir April, pada minggu pertama Mei menurun menjadi 105 kabupaten/kota.
Harga beras medium pun disebut mengalami fluktuasi 0,03 persen dan beras premium 0,28 persen.
Baca juga: Bapanas: Penyerapan beras petani tanpa impor dorong NTP naik
Baca juga: Bapanas tegaskan 371 ribu ton beras SPHP tersalurkan sejak awal 2026
Baca juga: Dirut Bulog: Stok beras 5 juta ton bukti swasembada bukan rekayasa
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·